MANAGED BY:
SELASA
24 APRIL
UTAMA | TANJUNG SELOR | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

PEMERINTAHAN

Selasa, 11 Juli 2017 12:16
Gubernur Sayangkan Ekspor Kepiting Vakum

BUMN Lirik Bangun Penampungan Kepiting di Tarakan

POTENSI KELAUTAN: Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie saat meninjau ekspor perdana udang dan kepiting melalui Bandara Internasional Juwata Tarakan, beberapa waktu lalu.

PROKAL.CO, align="left">JAKARTA - Pemprov Kalimantan Utara (Kaltara) telah memfasilitasi ekspor kepiting dan udang asal daerah ini ke Kuala Lumpur, Malaysia. Namun disayangkan program itu tidak berjalan. Oleh Pemprov melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltara telah melaporkan hal ini kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan.

 

Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie sangat menyayangkan vakumnya kegiatan ekspor komoditas tersebut. Padahal, usaha ini telah digadang-gadang mampu memberi keuntungan yang lebih besar kepada petambak dan pelaku usaha di Kaltara.

 

“Ini sangat disayangkan. Padahal, tujuan kita memfasilitasi itu agar usaha budidaya udang dan kepiting itu bisa lebih bergairah dari yang ada sekarang,” kata Irianto, Senin (10/7). 

 

Hitungan biaya dan waktu yang diperlukan selama mengekspor kepiting via pesawat udara jauh lebih efisien dibandingkan menggunakan jalur laut. Ekspor via udara juga mempunyai risiko keamanan yang lebih kecil jika dibandingkan lewat jalur ilegal di perairan.

 

“Untuk sampai di Kuala Lumpur saja hanya butuh 2 jam. Sedangkan yang lewat jalur perairan 2 jam baru sampai di Tawau. Cost-nya pun lebih tinggi. Selisih 20 persen,” ujarnya.

 

Irianto menegaskan, salah satu tujuan pemerintah daerah memfasilitasi ekspor komoditas laut ini adalah untuk mengarahkan agar para pengusaha kepiting dan udang bisa menjadi eksportir resmi dan mandiri. Sayangnya, misi tersebut harus kandas di tengah jalan.

 

“Kami mau masyarakat menjadi eksportir resmi. Bukan hanya orang Tawau yang menikmati keuntungan yang besar dari bisnis ini. Kami mau mulai dari petambak sampai pelaku usaha bisa berkembang lebih pesat,” sebutnya. 

 

Ditambahkan, setiap hari Kaltara bisa memproduksi sebanyak 15 hingga 20 ton kepiting dalam kondisi hidup. Kepiting Kaltara digemari oleh pasar Tiongkok dan Hongkong. Hanya saja kegiatan ekspornya tak pernah terdata, sebab selalu menggunakan jalur tak resmi melalui Tawau, Malaysia. Dimana para pengusaha Tawau yang kemudian mengekspor kepiting asal Kaltara tersebut ke dua negara di Asia Timur itu.

 

“Jadi kalau sudah sampai di Hongkong, orang tahunya itu kepiting dari Malaysia. Padahal kan dari Indonesia,” kata Irianto. 

 

Ke depan, lanjutnya, pemerintah mesti menyiapkan penampungan kepiting hasil tangkapan petambak, baik untuk keperluan ekspor maupun industri industri hilirnya. Sejatinya, brand Kaltara dan Indonesia diharapkan bisa tetap melekat sampai ke pasar global.

 

“Sudah ada BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang meninjau lokasi di Tarakan untuk membuat penampungan kepiting. Mereka harapkan ekspor jalur resmi tetap bisa berlanjut karena di Tarakan sudah ada bandara internasional,” sebutnya. 

 

Untuk diketahui, jika lewat jalur resmi, sertifikat kesehatan komoditas bisa dikeluarkan oleh Badan Karantina dalam negeri sehingga tak menjadi ancaman komoditas tersebut ditahan oleh karantina negara tujuan.  

 

Pasal 7 Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Ikan, Hewan, dan Tumbuhan menyebut setiap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina yang akan dikeluarkan dari wilayah Republik Indonesia wajib dilengkapi sertifikat kesehatan bagi hewan, bahan asal hewan, dan hasil bahan asal hewan, kecuali media pembawa yang tergolong benda lain.

 

Kedua, wajib melalui tempat-tempat pengeluaran yang telah ditetapkan. Dan ketiga, dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat-tempat pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina. 

 

Tahun lalu, saat Pemprov Kalimantan Utara menggandeng maskapai 3-MG, ekspor kepiting via pesawat udara dari bandar udara Juwata Tarakan ke Singapura sempat berlangsung sebanyak 6 kali. Dari Singapura, kepiting diangkut lewat jalur darat ke Kuala Lumpur. Lalu upaya ekspor kembali dijajaki bersama maskapai asal Malaysia, Asia Cargo Express, namun tak kunjung terealisasi. (humas)


BACA JUGA

Sabtu, 21 April 2018 11:06

Lanjutan Proyek Banjir Hanya Urgen

TARAKAN – Sempat terhenti lebih sebulan, karena kontraktor belum dibayar, akhirnya proyek penanggulangan…

Kamis, 19 April 2018 14:09

Bangga Pembangunan Kaltara

TANJUNG SELOR – Tak heran bila banyak kalangan masyarakat maupun kelompok yang mengapresiasi pencapaian…

Kamis, 19 April 2018 14:08

Ingin HUT Ke-5 Lebih Berkesan

TANJUNG SELOR – Gubernur Dr H Irianto Lambrie menginginkan perayaan HUT ke-5 Kaltara yang diperingati…

Kamis, 19 April 2018 14:07

Wujudkan Komitmen Perkuat Toleransi Umat Beragama

JAKARTA – Untuk menjadi sebuah negara yang adil dan makmur, negara harus berdaulat. Dan, untuk…

Kamis, 19 April 2018 14:03

Setarakan Harga Barang di Perbatasan dan Perkotaan

UNTUK melecut pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di wilayah perbatasan, Pemprov Kaltara meluncurkan…

Kamis, 19 April 2018 14:01

Subsidi Penerbangan untuk Buka Isolasi

TANJUNG SELOR – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara tak pernah alpa untuk memikirkan perkembangan…

Kamis, 19 April 2018 13:46

Abdul Jalil Fatah

TANJUNG SELOR –  Anggota Komisi III DPRD Kaltara Norhayati Andris  mengatakan, percepatan…

Rabu, 18 April 2018 14:22

Bekali Tenaga Kerja Lokal dengan Sertifikasi

TANJUNG SELOR – Salah satu dampak dari percepatan realisasi investasi di Kalimantan Utara adalah…

Rabu, 18 April 2018 14:19

Investor Diminta Buat Progres

JAKARTA – Sebagai tindak lanjut dari kunjungan delegasi dan pertemuan Belt and Road Trade and…

Selasa, 17 April 2018 12:26

Kucurkan Rp 639 M untuk Bangun Jalan

TANJUNG SELOR – Di dalam setiap pembahasan anggaran pendapatan dan belanja daerah, alokasi anggaran…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .