MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | TANJUNG SELOR | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

EKONOMI

Rabu, 15 Agustus 2018 15:50
Perundingan Mulai Melunak, Soal Harga Udang yang Terus Anjlok
HEARING: Petani tambak saat berrunding bersama pengusaha cold storage, pemerintah, DPRD di Ruang Rapat Utama Kantor DPRD Tarakan, kemarin (13/8).

PROKAL.CO, TARAKAN - Beberapa waktu lalu para petani tambak telah melakukan pertemuan dengan DPRD Tarakan, Dinas Perikanan, Dinas Perdagangan dan Koperasi untuk membahas harga udang yang terus anjlok.

Namun, dari pertemuan itu para petani tambak belum mendapatkan solusi akibat tidak hadirnya para pengusaha cold storage. Sehingga menimbulkan spekulasi bahwasannya ada permainan mafia harga di dalammya sehingga menyebabkan harga udang menjadi merosot.

Untuk hal itu, Operasional Manager PT.Sabindo sekaligus mewakili para pengusaha cold storage Chandra Sugiharto, mengatakan sebelumnya untuk penurunan harga jenis Black Tiger disebabkan akibat produksi udang Paname di negara lain berkembang sangat pesat. Sehingga menyebabkan jenis udang unggulan Black Tiger kurang diminati.

“Jadi seperti ini, jika berbicara harga tentunya Black Tiger lebih mahal dari pada jenis Paname. Tetapi karena ukuran hampir sama dengan harga yang jauh berebeda, tentunya konsumen di luar sana lebih memilih harga lebih murah. Selain itu, negara-negara lain juga sudah mulai mengembangkan budidaya udang Paname. Hal tersebut indikator pertama harga udang anjlok,” katanya kepada Bulungan Post, Selasa (14/8).

Disamping itu pula, terkait harga yang berbeda dengan komisi hingga menjadi permasalahan, Chandra mengatakan, selama ini 100 persen pihaknya tidak berinteraksi langsung dengan para petani tambak. Melainkan, dengan para supplier.

Ia mengakui jika pihaknya tidak memiliki kebijakan untuk mentukan biaya operasional bagi petani tambak. Karena para supplier yang menentukan dan menghubungkan antara perusahaan dengan petani tambak.

“Dalam pelaksanaannya kami memberikan satu harga, jadi jika ada keputusan dari pemerintah untuk mesatukan seluruh harga, kami sangat setuju. Justru hal itu memudahkan kami,” ungkapnya.

Chandra mengaku, jika hal tersebut tidak akan membuat pihaknya rugi akibat harga yang dikeluarkan tetap sama. Pihaknya sangat mendukung keputusan satu harga. Dengan catatan, supllier tidak merasa dirugikan karena keputusan tersebut.

“Jadi yang kami takutkan, dengan satu harga malah supllier yang rugi. Sebab mereka bertanggung jawab dengan pinjaman modal yang sangat besar diberikan kepada petani tambak,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebut Wakil Ketua DPRD Tarakan Muddain, mengatakan jika mengacu pada Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Perikanan dan Kelautan maka, kewenangannya berada pusat dan provinsi. Namun karena pihaknya memiliki tugas untuk menerima aspirasi rakyat, maka pihaknya memberikan fasilitas kepada para petani tambak yang ingin menyampaikan aspirasinya.

“Salah satu aspirasi yang para petani sampaikan kepada kami adalah, terjadinya fluktuasi harga udang yang sangat anjlok beberapa bulan terakhir. Sehingga petani tambak mencurigai adanya indikasi permainan harga di dalamnya,” ungkapnya, Selasa (13/8).

"Untuk itulah kita memfasilitasi dengan mengundang 8 pengusaha cold storage yang berdomisili di Tarakan. Selain itu mereka mengatakan, indikator penyebab udang tersebut naik di antaranya persaingan harga antara Black Tiger dengan Paname. Karena harganya yang cukup rendah," sambungnya.

Selain itu, udang Paname digemari karena ukuran besar dengan harga rendah yang dipasok dari Vietnam, India, dan Tiongkok. Sehingga mempengaruhi penjualan udang Black Tiger.

“Bukan berarti petani udang langsung percaya, mereka malah menginginkan keterlibatan pemerintah yang memutuskan harga tetap dari udang tersebut,” tegasnya.

Muddain juga mengakui jika pihaknya sudah mencari regulasi yang menetapkan harga tersebut. Hanya saja, para pengusaha merasa, permintaan dan persediaan tidak mengikat.

Masalah yang kedua ialah terkait dengan harga pokok di bawah harga komisi. Hal tersebut juga yang menjadi aspirasi dari para petani tambak. Mereka menginginkan agar sekiranya komisi tersebut dihilangkan atau diseragamkan dengan dengan harga pokok.

Lalu yang ketiga, dugaan lincahnya para supplier dalam memainkan timbangan sehingga harga dan komisi diberikan kepada petani tambak lumayan tinggi, padahal dirugikan.

"Oleh karena itu, kita telah menyurati DPRD provinsi terkait masalah ini agar disampaikan ke gubernur. Agar sekiranya masalah ini menjadi permasalahan provinsi karena sesuai dengan UU yang berlaku. Dan untuk indikasi ketiga kita telah menyurati Disprindag agar setiap supplier disidak timbangannya sesuai dengan tera dan diberikan stiker. Jika ditemui kecurangan dan tidak memiliki stiker maka izinnya akan kita cabut,” tegasnya.

Sementara itu, Sekertaris Gerakan Petani Tambak Tamsil, mengatakan jika setelah bermusyawarah dengan beberapa pihak akhirnya menemukan hasil yang disepakati yakni tidak adanya komisi hanya harga pokok dan adanya transparansi harga dari pihak pengusaha. “Jadi apapun yang dikeluarkan Disdagkop maka itulah harga yang nyata,” ungkapnya.

Meskipun telah mendapatkan titik terang, namun pihaknya belum merasa permasalahan itu selesai. Sebab sebelum rencana tersebut menjadi fakta dan belum merubah sistem ekonomi petani tambak, pihaknya hanya menganggap itu suatu wacana. “Rasa lega tentu ada, tetapi pengimplementasinya yang kita butuhkan bukan rencananya,” tegasnya.

Tamsil mengakui sudah mendapatkan indikator penyebab menurunnya harga udang yang mengakibatkan petani tambak tidak sejahtera. Namun, hak tersebut tidak dapat dicerna oleh pihaknya sebelum adanya andil pemerintah di dalamnya.

“Untuk tindak lanjut yang akan kita lakukan yakni masih adanya kesepakatan yang sifatnya harus musyawarah sekali lagi. Seperti pertemuan kami dengan para pengusaha yang difasilitasi oleh Disdagkop Tarakan serta menuggu tebusan surat tebusan dan keputusan dari gubernur Kaltara serta Kementrian Perikanan,” pungkasnya. (*/ade/rio)


BACA JUGA

Senin, 10 September 2018 15:03

Ongkos Angkut Disetarakan Harga dengan SOA

DINAS Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop) Kaltara tengah menyusun rancangan…

Senin, 10 September 2018 14:48

Harga Masih Anjlok

MESKI kurs dolar menguat dan diprediksi sebagian pengamat ekonomi lokal, bakal berdampak positif terhadap…

Senin, 10 September 2018 14:46

Produksi Tambak Udang Masih Jauh dari Harapan

TARAKAN – Potensi budidaya tambak diharapkan mampu bersaing menjadi salah satu sektor yang membangkitkan…

Jumat, 07 September 2018 14:21

Berhemat, Solusi Hadapi Melemahnya Rupiah

NILAI tukar rupiah yang mencapai Rp 15 ribu per USD 1, membuat masyarakat kian panik. Namun, kenaikan…

Jumat, 07 September 2018 14:17

Dolar Naik, Momentum Genjot Ekspor

TARAKAN – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Hendik Sudaryanto bersyukur,…

Kamis, 06 September 2018 17:27

Budidaya Rumput Laut Perlu Diatur

BUDIDAYA rumput laut di Kaltara cukup menjanjikan. Beberapa petani rumput laut, baik di Tarakan maupun…

Kamis, 06 September 2018 17:21

Agustus, Tarakan Alami Deflasi

TARAKAN – Upaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara dalam mengendalikan inflasi, masih terjaga.…

Kamis, 06 September 2018 17:16

Dolar Melonjak, Hindari Belanja Barang Impor

TARAKAN - Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika yang mencapai puncaknya dalam dua hari terakhir,…

Rabu, 05 September 2018 16:27

Liquid Vapor Dikenakan Bea Cukai

TARAKAN – Pemerintah akhirnya mengeluarkan keputusan terhadap rokok elektrik atau dikenal vapor…

Selasa, 04 September 2018 14:36

Gali Sumber PAD Alternatif

MEROSOTNYA penerimaan pendapatan asli daerah (PAD) hingga akhir triwulan ketiga tahun ini, mendapat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .