MANAGED BY:
RABU
17 OKTOBER
UTAMA | TANJUNG SELOR | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Jumat, 20 Juli 2018 13:03
Terhambat Bahasa Daerah, Tembus Pedalaman Kaltara

Upaya Komunitas Jendela Nusantara Ikut Mencerdaskan Bangsa

AMBIL BAGIAN: Ketua Komunitas Jendela Nusantara Rahmadina, memperlihatkan buku bacaan yang tersedia di komunitasnya.

PROKAL.CO, class="p1">Berlawal dari keprihatinan terhadap rendahnya tingkat membaca anak-anak di Kaltara, segelintir anak muda kemudian membentuk Komunitas Jendela Nusantara. Upaya itu dilakukan untuk membantu mengatasi persoalan itu.

 

MUHAMMAD RAJAB, Tarakan

 

KONSTITUSI memberi dalil bahwa negara bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal itu tertuang dalam alinea keempat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Sayangnya, sudah 73 tahun, masih ada anak-anak terutama di wilayah terpencil dan pedalaman yang justru belum merasakan hak-haknya sebagai warga negara atas pendidikan.

Hal itu kemudian yang mendorong Rahmadina, mendirikan Komunitas Jendela Nusantara. Ide itu tercetus pada 2015 lalu. 

Perempuan yang aktif pada berbagai kegiatan sosial lainnya itu kemudian mengajak rekan-rekannya sesama aktivitas berdisuksi soal pendidikan di Bumi Benuanta. 

“Buat suatu wadah yang tujuannya untuk pemerataan pendidikan dan sebaran virus literasi. Jadi sebelum ada literasi-literasi yang ada sekarang, kajian sudah ada,” tutur Rahmadina kepada Bulungan Post, Senin (16/7).

Komunitas ini mendapat respons positif dari masyarakat Tarakan. Hingga kini, telah memiliki anggota mencapai 100 orang, dengan latar belakang pekerjaan dan kemampuan.

Dalam kegiatannya, Rahmadina dan kawan-kawan bukan tanpa hambatan. Sebab, mereka tidak hanya menyalurkan amanah donatur menyalurkan sumbangan berupa buku bacaan dan alat tulis, tapi juga juga dituntut memberikan pemahaman kepada anak-anak pedalaman yang tingkat literasinya masih rendah.

“Kalau membaca cepat, enggak, tapi kalau mengeja bisa. Bisa sih tapi masih terbata-bata. Kelas VI, juga masih banyak, realitanya seperti itu,” beber Rahmadina.

“Waktu di Desa Tulang (Nunukan), jadi kita ini ngajar, bawa buku paket dan pas hari itu mereka lagi ujian sekolah. Jadi kita bantu gurunya. Ketika di lapangan kita kaget loh kok gurunya pakai bahasa daerah? Ternyata anak-anak tidak mengerti bahasa Indonesia,” lanjutnya.

Bahasa daerah yang digunakan adalah Bahasa Dayak Agaba. Hal itu diakuinya turut yang menghambat program sosial lainnya saat masuk ke daerah pedalaman. 

Ia menyebut, Program Indonesia Mengajar juga sempat masuk di desa itu. Namun karena komunikasi pengajarnya yang kurang memahami bahasa daerah setempatm di tambah lagi tidak terbiasa dengan lingkungan pedesaan, sehingga tidak bertahan lama.

Namun hambatan itu tidak menyurutkan semangat komunitas ini untuk terus memberikan yang terbaik baik untuk anak pedalaman. Terbukti tiga tahun berdiri, Komunitas Jendela Nusantara sudah mampu menyalurkan ribuan buku bacaan dan alat tulis bagi anak-anak kelas I sampai III sekolah dasar (SD). Kebanyakan disebar di wilayah-wilayah pedalaman, terutama di Nunukan.

Buku-buku tersebut selain berasal dari relawan yang tergabung dalam Komunitas Jendela Nusantara, juga dari donatur-donatur tetap baik pribadi, lembaga, instansi maupun perusahaan. Ada juga bantuan dari pustaka bergerak yang diterima setiap bulan tanggal 17.

Komunitas Jendela Nusantara lebih banyak menyentuh anak-anak pedalaman seperti di Nunukan dan Tanjung Selor. Karena kondisi rendahnya tingkat literasi ditemukan di dua daerah tersebut. Tugas ini dilakukan setahun dua kali karena keterbatasan anggaran.

“Secara finansial kita masih open donasi. Siapa yang ingin donasi. Karena kalau dari kota ke desa biayanya kalau untuk transport saja biasanya kita satu orang sampai Rp 5 juta. Kalau kita bawa 10 relawan sudah Rp 2,5 juta. Belum lagi kalau kita sewa long boat sampai ke atas hulu,” tuturnya.

Beruntung, sekarang pemerintah desa yang dikunjungi juga ikut mendukung kegiatan mereka. Dengan membantu menyiapkan akomodasi dan transportasi selama di desa tersebut. Karena masyarakat setempat merasa terbantu dengan kegiatan yang dilakukan Komunitas Jendela Nusantara. (*/rio)


BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2018 14:09

Anggaran Terbatas, Pengaspalan Tetap Diprogramkan

TANJUNG SELOR - Akses jalan darat menuju wilayah perbatasan ditargetkan pemerintah bisa rampung tahun…

Rabu, 17 Oktober 2018 14:08

Kotak Suara Akan Dilelang

TARAKAN -  Pada pemilihan presiden dan anggota legislatif tahun depan, kotak suara yang digunakan…

Rabu, 17 Oktober 2018 14:07

Dua Pendaftar Tak Penuhi Persyaratan

TANJUNG SELOR - Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Bulungan mencatat pendaftar…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:42

Tak Keberatan Dilibatkan Bahas APBD

TARAKAN – Pemerintah Kota Tarakan masih fokus membahas rancangan anggaran pendapatan dan belanja…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:39

Akses ke Perbatasan Terhubung

MALINAU - Pembangunan infrastruktur jalan di wilayah perbatasan Kalimantan Utara, terus digalakkan.…

Senin, 15 Oktober 2018 00:11

Tak Terima, Laporkan

SELAIN baliho, spanduk atau poster, peserta pemilu juga diperbolehkan memasang stiker di tempat-tempat…

Senin, 15 Oktober 2018 00:10

Masih Mangkrak, Pembangunan GOR Tak Ada Kejelasan

TARAKAN – Hingga menjelang berakhirnya masa jabatan Wali Kota Tarakan Sofian Raga, pembangunan…

Senin, 15 Oktober 2018 00:09

Fokus Perbaikan Jalan Berlubang

MALINAU - Pengerjaan jalan nasional untuk wilayah perbatasan Malinau hingga ke Sungai Ular, Kabupaten…

Minggu, 14 Oktober 2018 14:25

Begini Usaha Mempermudah Urusan TKI

SEBAGAI pintu gerbang keluar masuknya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mencoba peruntungan di negeri…

Minggu, 14 Oktober 2018 14:24

Terduga Perompak ‘Dihadiahi’ Timah Panas

TANJUNG SELOR – Personel Pangkalan TNI Angkatan Laut (AL) Nunukan bersama Satuan Tugas (Satgas)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .