MANAGED BY:
SABTU
18 AGUSTUS
UTAMA | TANJUNG SELOR | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Rabu, 18 Juli 2018 14:28
Bikin Keluarga Terkejut, Dikenal Bersahaja dan Pekerja Keras

Riwayat Korban yang Dibunuh Orang Gila di Samarinda

MENUJU PERISTIRAHATAN TERAKHIR: Prosesi pemakaman Muhammad Riharja sebelum dikebumikan di TPU Muslim, Mamburungan, Tarakan Timur, Selasa (17/7) siang.

PROKAL.CO, class="p1">Muhammad Riharja harus pulang ke kampung halaman dalam keadaan tragis. Ia dibunuh oleh orang gila, saat hendak salat di Masjid Agung Pelita, Samarinda, Kalimantan Timur, Senin (16/7) sore. Padahal, bagi keluarga dan sahabat, ia dikenal sebagai sosok yang bijak dan sering memberi nasihat.

 

ADE JULIAN NUR, Tarakan

 

SUASANA hening. Hanya isak tangis yang terdengar di sebuah rumah di Jalan Sei Ngingitan RT 11 Mamburungan, Tarakan Timur, Selasa (17/7) pagi. 

Rumah itu adalah tempeh persinggahan. Sebelum Muhammad Riharja Bin Jafar menuju peristirahatan terakhirnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Muslim, Mamburungan.

Terlihat beberapa kerabat, teman dekat, rekan kerja, serta tetangga mengerumuni rumah yang dicat putih kecoklatan sejak pagi. 

Di halaman, tenda biru berdiri tegak. Para kerabat yang tak bisa masuk ke dalam rumah, menunggu di halaman. Selembar kain berwarna putih yang diikat pada sebatang bambu, berkibar hati-hati mengikuti embusan angin di dekat rumah. 

Amod-panggilan akrab Muhammad Riharja- adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kaltim. Ia menjadi korban kebrutalan orang dengan gangguan jiwa. 

Amod dipukul dengan palu. Hingga mengalami luka parah di bagian wajah. Karena pendarahan, nyawanya pun tak dapat ditolong. 

Keluarga Amod di Tarakan yang mendengar kejadian tersebut pun terkejut. Terlebih kedua orangtuanya. Pasalnya, Amod dikenal sosok yang tidak pernah membuat onar.

Sekira pukul 11.30 Wita, jenazah ayah 3 anak tersebut tiba di rumah duka. Diiringi suara sirine.

Ketika jenazah digotong keluar dari dalam ambulans ada dua sosok yang terlihat sangat terpukul dengan. Yakni, kedua orangtua Amod. Sang ibu bahkan jatuh pingsan karena mampu membendung emosinya.

Sementara sang ayah, Jafar, mengatakan seperti bermimpi. Karena ia tak menyangka kehilangan seorang anak dengan cara naas seperti ini.

Menurutnya, lebih baik ia yang menemu Sang Pencipta lebih dahulu ketimbang darah daging yang dibesarkannya dengar cucuran keringat. 

Hal yang paling disesalinya adalah ketika tak ada satu pun keluarga yang menemani Amod saat detik-detik terakhirnya.

“Kemarin (Senin, Red) sekira pukul 17.30 Wita, saya ditelpon rekan kerjanya mengatakan kalau anak saya sudah tidak ada dengan cara seperti itu. Sebagai manusia gudangnya khilaf saya sempat sangat marah bahkan hampir tidak bisa menahan emosi. Setelah saya sadar semua kehendak Allah saya hanya bisa berserah,” ungkap mantan Kepala Desa Mamburungan tersebut kepada Bulungan Post. 

Ia melanjutkan, Amod merupakan seorang pekerja keras. Terbukti waktu masih semasa remaja, sembari sekolah di SMAN 2 Tarakan, almarhum juga bekerja mencuci mobil untuk tambahan uang saku. Tujuannya, untuk meringankan beban kedua orangtuanya. 

Di sela waktu kosong almarhum juga sering memberi pakan sapi milik orangtuanya.

Bahkan ketika ia mengenyam bangku kuliah di Universitas Gajah Mada, Jogjakarta ia tidak pernah menuntut, bahkan meminta tambahan uang. 

Amod selalu mengerti dengan keadaan orangtuanya yang saat itu untuk tunjangan seorang kepala desa hanya berkisar Rp 7 hingga 13 ribu. Itu pun dibayar tiap 3 bulan sekali.

“Biasanya kadang-kadang sebulan saya cuman berikan uang sebesar Rp 50 ribu untuk makan. Dan dia tidak pernah meminta, dan tinggal di asrama Bulungan di sana,” ungkapnya.

Jafar yang menceritakan riwayat sang putra, tak mampu menahan tangis. Apalagi mengingat kebaikan sang anak yang selalu bekerja keras.

Masih segar dalam ingatan Jafar, sebelum menjadi PNS, Amod sempat bekerja sebagai pemotong rumput dan tukang jahit. Namun, almarhum tak mengeluh. Tetap berjuang.

Jafar yang bercerita secara terbata-bata, mengaku, mendapat firasat dua hari sebelum sang anak meninggal. Tanggannya seperti kejang. Kejang dalam waktu cukup lama. Saat itu, dia berdoa kepada Allah jika ini pertanda berikanlah yang terbaik buat kami dan sekeluarga. 

Ternyata firasat itu benar menandakan anak kedua dari lima bersaudara itu harus berakhir di tangan seseorang yang diduga gila.

“Sepuluh hari yang lalu ia pulang ke Tarakan untuk bertemu saya dan ibunya. Tak berselang beberapa hari ia kembali ke Samarinda. Tidak tahu alasannya hanya ingin bertemu,” ungkapnya.

Dengan itu, Jafar berharap semoga anaknya dapat diterima di sisiNYA. “Semoga kejadian tersebut menjadi pertama dan terakhir,” harap Jafar.

Setelah Salat Dzuhur, jasad Amod pun dibawa ke TPU Muslim yang tidak jauh dari rumah. Keluarga serta kerabat, ikut mengiringi kepergiannya. Jafar serta sang istri, juga ikut untuk mengantarkan putra kebanggannya menuju peristirahatan terakhir. (*/rio) 


BACA JUGA

Sabtu, 18 Agustus 2018 14:52

Longsor di Jalan Lingkar Sebatik, Ancam Keselamatan Warga, Belum Ada Penanganan

SEBATIK BARAT – Kondisi jalan lingkar Sebatik, tepatnya di Bukit Menangis RT 06 Desa Bambangan,…

Jumat, 17 Agustus 2018 14:58

Bangun Laboratorium Uji Mutu

TANJUNG SELOR - Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (Disperindagkop…

Jumat, 17 Agustus 2018 14:50

Bentuk Desa Tangguh Bencana

TANJUNG SELOR - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltara mempunyai program membuat desa tangguh…

Kamis, 16 Agustus 2018 14:45

Berkas Laka Speedboat Belum Lengkap

BERKAS kasus kecelakaan laut Speedboat Harapan Baru, belum sepenuhnya diserahkan ke Kejaksaan Negeri…

Rabu, 15 Agustus 2018 15:43

Capaian Imunisasi MR 21,68 Persen

TANJUNG SELOR - Meski pemberian vaksin Measles Rubella (MR) masih menuai pro kontra di kalangan masyarakat…

Rabu, 15 Agustus 2018 15:39

Sertifikasi Halal sambil Jalan

PRO dan kontra yang terjadi akibat vaksin imunisasi Measles Rubella (MR) menimbulkan keresahan bagi…

Selasa, 14 Agustus 2018 15:51

Satu Kepala OPD Terjaring Razia Satpol PP

TANJUNG SELOR – Penekanan Gubernur Kaltara Irianto Lambrie agar PNS maupun pegawai tidak tetap…

Selasa, 14 Agustus 2018 15:44

Rekrutmen CPNS Tunggu Kepastian Pusat

MASYARAKAT Tarakan masih harus bersabar untuk bisa mengikuti seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS).…

Senin, 13 Agustus 2018 16:01

Kurir Bawa Sabu 1 Kg

TANJUNG SELOR – Kawasan perbatasan di Kabupaten Nunukan masih menjadi pintu masuk bagi para bandar…

Senin, 13 Agustus 2018 14:05

NAH KAN, KASUSSS..!! Sejumlah Pejabat KTT Diperiksa

TANA TIDUNG – Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dit Tipikor) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .