MANAGED BY:
RABU
17 OKTOBER
UTAMA | TANJUNG SELOR | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Kamis, 14 Juni 2018 14:16
Kisruh Harga Ayam, Pedagang Keberatan Ikuti HET, Satgas Pangan Beri Toleransi
TAK DAPAT PERSETUJUAN: Sejumlah pedagang ribut dengan satgas pangan saat sidak di Pasar Gusher, Tarakan, Rabu (13/6).

PROKAL.CO, TARAKAN – Kesepakatan bersama terkait harga eceran tertinggi (HET) ayam potong, dari hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara), Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan serta aparat kepolisian dan sejumlah distributor ke Pasar Gusher, Selasa (12/6) belum dilaksanakan pedagang ayam.

Hasil sidak lanjutan pada Rabu (13/6) di pasar yang sama, masih mendapatkan pedagang menjual ayam potong di atas HET, Rp 45 ribu per kilogram. Harga yang dijual pedagang pun  bervariasi. Mulai dari HET, hingga Rp 65 ribu per kilogram.

Seorang pedagang ayam di Pasar Gusher, Saiful mengaku, masih menjual di atas HET. “Kita kan banyak langganan. Kalau warung kita kasih Rp 40 ribu. Karena langganan har-hari. Kalau jual ke warga Rp 55-50 ribu,” ujar perempuan berhijab itu.

Mansyur, pedagang ayam lainnya juga masih menjual ayam potong di atas HET. Alasannya, ia tidak mendapatkan informasi secara detil tentang HET yang sudah ditentukan.

“Belum ada (surat edaran tentang HET ayam potong) sampai sekarang. Makanya saya bilang ikuti aja pasaran,” ujar Mansyur. 

Masyur sendiri agak keberatan dengan patokan harga jual ayam Rp 45 ribu per kilogram. Ia berdalih, stok ayam saat ini kurang. Pun berat ayam pun berkurang.

Sehingga jika dikalkulasi, keuntungan yang didapatnya sangat tipis bila menerapkan HET. Ia mengaku mendapat ayam dari distributor dengan harga Rp 27-28 ribu per kilogram. Harga itu diakuinya sudah naik dibandingkan hari biasa, yang hanya Rp 25 ribu per kilogram.

Belum lagi proses menguliti sampai dijual bersih yang memakan waktu dan tenaga. Ia mencontohkan, kondisi ayam yang baru diambil setelah dimasak untuk dikuliti, sangat berbeda beratnya. Hal itu memengaruhi harga jual ayam serta keuntungannya.

Di sisi lain, Mansyur juga harus memikirkan gaji untuk 5 orang pekerjanya. Serta kebutuhan lain seperti air, listrik, sewa ruko yang ditempatinya, dan lain-lain yang mendukung usaha dagang ayam potongnya. Sehingga ia berharap momen Lebaran, waktu yang tepat untuk mendapat untung lebih, guna menutupi semua biaya tersebut.  “Sedikit untungnya kalau Rp 45 ribu. Jujur saja,” beber Mansyur.

Pedagang lain, Purwanto, juga keberatan dengan HET Rp 45 ribu per kilogram. Pasalnya momentum saat ini dianggapnya untuk menutupi kerugian pada hari-hari biasa yang terkadang banyak ayam terbuang karena tidak laku.

“Masalah Rp 45 ribu untuk hari ini sampai besok, saya tidak setuju. Saya jualan di meja saya tetap jual Rp 60-65 ribu. Terserah mau diapakan,” tegasnya.

Menurutnya, harga ayam harus disesuaikan dengan kondisi pasar. Kondisi yang terjadi saat ini adalah stok ayam yang berkurang. Selain itu, ukuran dan berat ayam juga tidak seberapa. Sehingga mau tidak mau ia harus menjual dengan harga tinggi untuk menutupi kerugian.

Dari pantauan Bulungan Post, pemerintah bersama aparat terkait belum bisa berbuat banyak agar pedagang dapat menerapkan HET. Pemerintah justru banyak mendapat pertentangan di lapangan.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kaltara, Hasriani, berharap ada sikap tegas yang dilakukan satuan tugas (satgas) pangan terhadap pedagang yang belum menerapkan HET.

“Ini kan tadi sebenarnya sudah ada penindakan tegas dari satgas dalam hal ini dari kepolisian. Harusnya ada tindakan yang diambil. Barangnya diambil,” katanya.  

Hasriani sendiri kecewa dengan sikap beberapa pedagang yang belum menerapkan HET. “Sebenarnya aksi hari ini (kemarin, Red) sudah harus Rp 45 ribu. Karena sudah ada kesepakatan dengan semua distributor. Tapi bisa dilihat sendiri tadi kan, yang lain iya, sudah oke. Sesuai dengan distributor yang membagikan ayam ke mereka. Tapi ada beberapa yang memang satu keluarga yang agak sulit menerima,” ujarnya.

Menurut Hasriani, Pemprov Kaltara sendiri punya dasar yang kuat untuk tetap menerapkan HET tersebut. Yakni dengan terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 62 Tahun 2018 tentang Penetapan Harga Ayam Ras.

HET yang diberlakukan pun sebenarnya dinilai lebih baik dari ditetapkan pemerintah pusat. Di mana untuk luar Jawa hanya dipatok Rp 34 ribu per kilogram. Namun, dengan berbagai pertimbangan termasuk memikirkan keuntungan distributor dan pedagang, disepakatilah HET Rp 45 ribu per kilogram.

“Sebenarnya Rp 45 (ribu) itu sudah ada untuk mereka dan sudah harga bagus gitu loh. Toh selama ini juga mereka tetap menjual ke pelanggan mereka itu di posisi Rp 40 ribu (per kilogram). Artinya kan tetap masih ada keuntungan dan jalan,” tuturnya.

Harga ayam potong di Tarakan yang meningkat drastis, dinilai Hasriani, menjadi sorotan di Indonesia. Ia bahkan mengklaim, harga ayam di Tarakan yang tertinggi. Karena itu, pemerintah harus turun tangan agar persoalan ini tidak memberatkan masyarakat yang membutuhkan di momen Lebaran ini.

Satgas pangan sendiri masih memberikan toleransi karena sejumlah pedagang mengaku belum mendapatkan informasi hasil kesepatakan tentang HET.

“Yang jelas tadi kendalanya informasi itu belum sampai ke pedagang. Setelah disampaikan baru (pedagang) memahami,” kata Ipda Deny Mardiyanto mewakili satgas pangan. (mrs/rio)


BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2018 14:09

Anggaran Terbatas, Pengaspalan Tetap Diprogramkan

TANJUNG SELOR - Akses jalan darat menuju wilayah perbatasan ditargetkan pemerintah bisa rampung tahun…

Rabu, 17 Oktober 2018 14:08

Kotak Suara Akan Dilelang

TARAKAN -  Pada pemilihan presiden dan anggota legislatif tahun depan, kotak suara yang digunakan…

Rabu, 17 Oktober 2018 14:07

Dua Pendaftar Tak Penuhi Persyaratan

TANJUNG SELOR - Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Bulungan mencatat pendaftar…

Rabu, 17 Oktober 2018 14:04

Tinjau Jalan Poros Long Bawan Tembus Krayan Selatan

Jalan poros Long Bawan, Kabupaten Malinau, merupakan akses perbatasan yang menghubungkan Kecamatan Krayan…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:42

Tak Keberatan Dilibatkan Bahas APBD

TARAKAN – Pemerintah Kota Tarakan masih fokus membahas rancangan anggaran pendapatan dan belanja…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:40

Lanjutkan Kuliah, Berhasil Raih Cum Laude

Nama Mayjen (Purn) TNI Dicky Wainal Usman sempat mencuat jelang Pilgub Kaltara, 2015 lalu. Lama tak…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:39

Akses ke Perbatasan Terhubung

MALINAU - Pembangunan infrastruktur jalan di wilayah perbatasan Kalimantan Utara, terus digalakkan.…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:39

Temui Personel TNI, Layani Permintaan Foto Pelajar SMK

Kunjungan kerja Gubernur Kaltara Irianto Lambrie dari Nunukan ke Malinau melalui jalur darat, butuh…

Senin, 15 Oktober 2018 00:11

Tak Terima, Laporkan

SELAIN baliho, spanduk atau poster, peserta pemilu juga diperbolehkan memasang stiker di tempat-tempat…

Senin, 15 Oktober 2018 00:10

Masih Mangkrak, Pembangunan GOR Tak Ada Kejelasan

TARAKAN – Hingga menjelang berakhirnya masa jabatan Wali Kota Tarakan Sofian Raga, pembangunan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .