MANAGED BY:
KAMIS
16 AGUSTUS
UTAMA | TANJUNG SELOR | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Kamis, 14 Juni 2018 14:16
Kisruh Harga Ayam, Pedagang Keberatan Ikuti HET, Satgas Pangan Beri Toleransi
TAK DAPAT PERSETUJUAN: Sejumlah pedagang ribut dengan satgas pangan saat sidak di Pasar Gusher, Tarakan, Rabu (13/6).

PROKAL.CO, TARAKAN – Kesepakatan bersama terkait harga eceran tertinggi (HET) ayam potong, dari hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara), Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan serta aparat kepolisian dan sejumlah distributor ke Pasar Gusher, Selasa (12/6) belum dilaksanakan pedagang ayam.

Hasil sidak lanjutan pada Rabu (13/6) di pasar yang sama, masih mendapatkan pedagang menjual ayam potong di atas HET, Rp 45 ribu per kilogram. Harga yang dijual pedagang pun  bervariasi. Mulai dari HET, hingga Rp 65 ribu per kilogram.

Seorang pedagang ayam di Pasar Gusher, Saiful mengaku, masih menjual di atas HET. “Kita kan banyak langganan. Kalau warung kita kasih Rp 40 ribu. Karena langganan har-hari. Kalau jual ke warga Rp 55-50 ribu,” ujar perempuan berhijab itu.

Mansyur, pedagang ayam lainnya juga masih menjual ayam potong di atas HET. Alasannya, ia tidak mendapatkan informasi secara detil tentang HET yang sudah ditentukan.

“Belum ada (surat edaran tentang HET ayam potong) sampai sekarang. Makanya saya bilang ikuti aja pasaran,” ujar Mansyur. 

Masyur sendiri agak keberatan dengan patokan harga jual ayam Rp 45 ribu per kilogram. Ia berdalih, stok ayam saat ini kurang. Pun berat ayam pun berkurang.

Sehingga jika dikalkulasi, keuntungan yang didapatnya sangat tipis bila menerapkan HET. Ia mengaku mendapat ayam dari distributor dengan harga Rp 27-28 ribu per kilogram. Harga itu diakuinya sudah naik dibandingkan hari biasa, yang hanya Rp 25 ribu per kilogram.

Belum lagi proses menguliti sampai dijual bersih yang memakan waktu dan tenaga. Ia mencontohkan, kondisi ayam yang baru diambil setelah dimasak untuk dikuliti, sangat berbeda beratnya. Hal itu memengaruhi harga jual ayam serta keuntungannya.

Di sisi lain, Mansyur juga harus memikirkan gaji untuk 5 orang pekerjanya. Serta kebutuhan lain seperti air, listrik, sewa ruko yang ditempatinya, dan lain-lain yang mendukung usaha dagang ayam potongnya. Sehingga ia berharap momen Lebaran, waktu yang tepat untuk mendapat untung lebih, guna menutupi semua biaya tersebut.  “Sedikit untungnya kalau Rp 45 ribu. Jujur saja,” beber Mansyur.

Pedagang lain, Purwanto, juga keberatan dengan HET Rp 45 ribu per kilogram. Pasalnya momentum saat ini dianggapnya untuk menutupi kerugian pada hari-hari biasa yang terkadang banyak ayam terbuang karena tidak laku.

“Masalah Rp 45 ribu untuk hari ini sampai besok, saya tidak setuju. Saya jualan di meja saya tetap jual Rp 60-65 ribu. Terserah mau diapakan,” tegasnya.

Menurutnya, harga ayam harus disesuaikan dengan kondisi pasar. Kondisi yang terjadi saat ini adalah stok ayam yang berkurang. Selain itu, ukuran dan berat ayam juga tidak seberapa. Sehingga mau tidak mau ia harus menjual dengan harga tinggi untuk menutupi kerugian.

Dari pantauan Bulungan Post, pemerintah bersama aparat terkait belum bisa berbuat banyak agar pedagang dapat menerapkan HET. Pemerintah justru banyak mendapat pertentangan di lapangan.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kaltara, Hasriani, berharap ada sikap tegas yang dilakukan satuan tugas (satgas) pangan terhadap pedagang yang belum menerapkan HET.

“Ini kan tadi sebenarnya sudah ada penindakan tegas dari satgas dalam hal ini dari kepolisian. Harusnya ada tindakan yang diambil. Barangnya diambil,” katanya.  

Hasriani sendiri kecewa dengan sikap beberapa pedagang yang belum menerapkan HET. “Sebenarnya aksi hari ini (kemarin, Red) sudah harus Rp 45 ribu. Karena sudah ada kesepakatan dengan semua distributor. Tapi bisa dilihat sendiri tadi kan, yang lain iya, sudah oke. Sesuai dengan distributor yang membagikan ayam ke mereka. Tapi ada beberapa yang memang satu keluarga yang agak sulit menerima,” ujarnya.

Menurut Hasriani, Pemprov Kaltara sendiri punya dasar yang kuat untuk tetap menerapkan HET tersebut. Yakni dengan terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 62 Tahun 2018 tentang Penetapan Harga Ayam Ras.

HET yang diberlakukan pun sebenarnya dinilai lebih baik dari ditetapkan pemerintah pusat. Di mana untuk luar Jawa hanya dipatok Rp 34 ribu per kilogram. Namun, dengan berbagai pertimbangan termasuk memikirkan keuntungan distributor dan pedagang, disepakatilah HET Rp 45 ribu per kilogram.

“Sebenarnya Rp 45 (ribu) itu sudah ada untuk mereka dan sudah harga bagus gitu loh. Toh selama ini juga mereka tetap menjual ke pelanggan mereka itu di posisi Rp 40 ribu (per kilogram). Artinya kan tetap masih ada keuntungan dan jalan,” tuturnya.

Harga ayam potong di Tarakan yang meningkat drastis, dinilai Hasriani, menjadi sorotan di Indonesia. Ia bahkan mengklaim, harga ayam di Tarakan yang tertinggi. Karena itu, pemerintah harus turun tangan agar persoalan ini tidak memberatkan masyarakat yang membutuhkan di momen Lebaran ini.

Satgas pangan sendiri masih memberikan toleransi karena sejumlah pedagang mengaku belum mendapatkan informasi hasil kesepatakan tentang HET.

“Yang jelas tadi kendalanya informasi itu belum sampai ke pedagang. Setelah disampaikan baru (pedagang) memahami,” kata Ipda Deny Mardiyanto mewakili satgas pangan. (mrs/rio)


BACA JUGA

Kamis, 16 Agustus 2018 14:45

Berkas Laka Speedboat Belum Lengkap

BERKAS kasus kecelakaan laut Speedboat Harapan Baru, belum sepenuhnya diserahkan ke Kejaksaan Negeri…

Rabu, 15 Agustus 2018 15:46

Sempat Jual Sapi, Kini Punya Belasan Kapal LCT

Meraih kesuksesan pasti melalui proses. Begitupun yang dualami Jupri Budiman Pahit dan manis menjalani…

Rabu, 15 Agustus 2018 15:43

Capaian Imunisasi MR 21,68 Persen

TANJUNG SELOR - Meski pemberian vaksin Measles Rubella (MR) masih menuai pro kontra di kalangan masyarakat…

Rabu, 15 Agustus 2018 15:39

Sertifikasi Halal sambil Jalan

PRO dan kontra yang terjadi akibat vaksin imunisasi Measles Rubella (MR) menimbulkan keresahan bagi…

Selasa, 14 Agustus 2018 15:51

Satu Kepala OPD Terjaring Razia Satpol PP

TANJUNG SELOR – Penekanan Gubernur Kaltara Irianto Lambrie agar PNS maupun pegawai tidak tetap…

Selasa, 14 Agustus 2018 15:44

Rekrutmen CPNS Tunggu Kepastian Pusat

MASYARAKAT Tarakan masih harus bersabar untuk bisa mengikuti seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS).…

Selasa, 14 Agustus 2018 15:41

Harus Berpikir Kreatif dan Tidak Malu Bertanya

Jatuh bangun sempat dialami Makbul, pengusaha penyedia suku cadang alat berat. Namun, dukungan keluarga…

Senin, 13 Agustus 2018 16:01

Kurir Bawa Sabu 1 Kg

TANJUNG SELOR – Kawasan perbatasan di Kabupaten Nunukan masih menjadi pintu masuk bagi para bandar…

Senin, 13 Agustus 2018 14:05

NAH KAN, KASUSSS..!! Sejumlah Pejabat KTT Diperiksa

TANA TIDUNG – Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dit Tipikor) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim)…

Senin, 13 Agustus 2018 14:03

Lanjutkan Usaha Orangtua, Sempat Terkendala Modal

Sukses adalah sebuah pilihan. Seperti Irham yang meninggalkan dunia konsultan kostruksi untuk menjadi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .