MANAGED BY:
KAMIS
13 DESEMBER
UTAMA | TANJUNG SELOR | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

TANJUNG SELOR

Selasa, 17 April 2018 12:11
YUK LESTARIKAN..!! Ada 506 Biota Terdata di TNKM
Taman Nasional Kayan Mentarang penuh dengan keanekaragaman hayati.

PROKAL.CO, TANJUNG SELOR -  Masuk dalam Heart of Borneo (HoB) atau jantung Kalimantan, wilayah Kaltara yang sebagian besar masih berupa hutan memang memiliki kekayaan alam. Khususnya keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna.

Salah satunya melalui keberadaan Taman Nasional Kayan Mentarang yang punya peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Potensi keanekaragaman hayati di dalam TN Kayan Mentarang memiliki daya tarik berbagai lembaga untuk melakukan survei maupun penelitian.

Pada 5 Desember 2017 hingga 5 Februari 2018 lalu, peneliti dari Ecology and Conservation Center for Tropical Studies (Ecositrop) bersama Balai TN Kayan Mentarang melakukan survei biodiversity dan sosial ekonomi di sekitar kawasan dan penyangga TN Kayan Mentarang. Yakni, di Kecamatan Bahau Hulu dan Pujungan.

Kepala BTN Kayan Mentarang Johnny Lagawurin menjelaskan, tujuan kegiatan tersebut untuk inventarisasi dan studi keanekaragaman hayati di kawasan tersebut. Selain itu, juga sebagai bahan untuk memperbarui dan menambah data lama yang sebelumnya ditulis oleh WWF Indonesia dan hasil studi lain yang menjadi rujukan BTNKM dalam pengelolaan dengan skema kolaboratif.

Berdasarkan data hasil studi Ecositrop, tercatat sedikitnya 506 jenis flora dan fauna yang berhasil di inventarisasi di Bahau Hulu dan Pujungan yang masuk Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Long Alango. Terdiri atas 325 jenis flora dan 181 jenis fauna. Untuk fauna, terbagi lagi atas 91 jenis burung, 28 jenis ikan, 38 jenis herpetofauna (17 jenis reptil dan 21 jenis amfibi), 18 jenis mamalia, dan 6 jenis primata.

“Dengan luas kawasan 1,3 juta hektare, jumlah biodiversity yang telah diinventarisir itu tentu belum mencakup pontensi keseluruhan yang ada di TNKM, yang setiap waktu berkembang secara alami dan lestari,” ungkap Johny, belum lama ini.

Menurutnya, potensi keanekaragaman hayati di SPTN Wilayah I Long Bawan dan SPTN III Long Ampung juga perlu diinventarisasi melalui survei biodiversity. Seperti survei yang telah dilaksanakan di SPTN II Long Alango. Itu yang mendorong BTNKM untuk terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga studi dan masyarakat adat dalam menyajikan database keanekaragaman hayati.

“Kawasan TNKM ini sangat luas, data yang kita dapat baru di SPTN II dan ini luar biasa. Kita perlu eksplore lagi di kawasan lainnya (SPTN I dan SPTN III) bersama lembaga studi dan masyarakat adat. inilah bentuk kesadaran kita bahwa kita punya kawasan dengan kekayaan alam melimpah,” terangnya.

Selain potensi keanekaragaman hayati, keberadaan TN Kayan Mentarang juga memiliki hubungan erat dengan masyarakat. Dari hasil survei tiga desa di SPTN Wilayah II Long Alango terhadap 13 kepala keluaraga (KK) di masing-masing lokasi penelitian, diperoleh data setiap KK memiliki lahan 5-10 hektare yang terbagi hingga 6 lokasi. Luas ladang yang dibuka setiap tahunnya, selama 10 tahun terakhir, berkisar 0,5-0,6 hektare. Sementara, luas sawah 50x50 meter.

“Lahan itu ditanami berbagai tumbuhan perkebunan dan pertanian seperti buah-buahan, karet dan padi ladang. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan daging, masyarakat melakukan perburuan secara terbatas dan tidak diperjualbelikan,” ungkapnya.

Hasil survei menunjukkan bahwa kawasan TNKM merupakan potensi wisata alam. Namun, dalam pengembangan pariwisata itu diperlukan pengembangan kapasitas dan pendidikan masyarakat. Termasuk hubungan dengan aspek pelayanan hingga sarana dan prasarana.

Dengan tingkat ketergantungan yang sangat tinggi, TN Kayan Mentarang merupakan lumbung kebutuhan masyarakat sekitar kawasan dan penyangga. Untungnya, masyarakat sekitar kawasan sudah menerapkan nilai-nilai konservasi dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan yang dituangkan dalam aturan adat.

“Dari hasil survei sosek ini, kita bisa tahu bagaimana kesadaran masyarakat dalam menjalankan nilai konservasi. Bahkan, saat ini mereka sudah membuat aturan tertulis tentang pemanfaatan dan pengelolaan hutan di wilayahnya. Aturan itu diperkuat UU Nomor 5 Tahun 1990 yang dilaksanakan oleh BTNKM. Tujuannya, mencegah terjadinya konversi lahan untuk kebutuhan instrustri berbasis hasil hutan. Itu berbahaya, karena imbasnya pada masyarakat sekitar yang akan semakin sulit memenuhi kebutuhannya,” bebernya. (rus/fen)


BACA JUGA

Rabu, 12 Desember 2018 09:58

Siapkan Perda Tenaga Kerja Lokal

TANJUNG SELOR – Langkah cepat diambil Pemkab dan DPRD Bulungan…

Rabu, 12 Desember 2018 09:55

16 Raperda Tertunda

KELANJUTAN pembahasan 11 rancangan peraturan daerah (Raperda) usulan Pemprov Kaltara…

Selasa, 11 Desember 2018 10:26

Jumlah Printer KTP-el Belum Ideal

TANJUNG SELOR – Jumlah printer untuk pencetakan KTP-el di Dinas…

Selasa, 11 Desember 2018 10:00

DPTHP-2 Bertambah 64 Pemilih

TANJUNG SELOR - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bulungan telah usai…

Selasa, 11 Desember 2018 09:55

Realisasi DAK Capai 90,7 Persen

TANJUNG SELOR – Pencairan dana alokasi khusus (DAK) untuk pembangunan…

Senin, 10 Desember 2018 12:57

Sertifikasi Nelayan Tersisa 1 Persen

TANJUNG SELOR – Kalimantan Utara mendapatkan kuota sebanyak 600 nelayan…

Senin, 10 Desember 2018 12:48

Tahun Depan Bertambah

KABUPATEN Bulungan akan kembali kedatangan warga transmigrasi pada tahun depan.…

Senin, 10 Desember 2018 12:46

Waspada Diabetes Melitus

PENYAKIT diabetes melitus perlu diwaspadai masyarakat. Karena menurut Ketua Ikatan…

Minggu, 09 Desember 2018 11:30

Tim Saber Pungli ‘Bidik’ Pelayanan Publik

TANJUNG SELOR – Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli)…

Minggu, 09 Desember 2018 11:26

Penghargaan Tak Berbanding Lurus dengan Kondisi Pasar

TANJUNG SELOR – Penghargaan Pasar Tertib Ukur diperoleh Kabupaten Bulungan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .