MANAGED BY:
MINGGU
24 JUNI
UTAMA | TANJUNG SELOR | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Senin, 12 Maret 2018 12:32
Desa Mandiri Pangan Dinilai Akal-akalan

Desa Apung Dianggap Tak Cocok untuk Pertanian

JADI PERTANYAAN: Di gerbang masuk jalan menuju SP VI Desa Apung bisa dilihat papan yang bertuliskan ‘Desa Mandiri Pangan’.

PROKAL.CO, TANJUNG SELOR – Ketika memasuki Satuan Permukiman (SP) VI Desa Apung, Kecamatan Tanjung Selor, bisa dijumpai papan yang bertuliskan Desa Mandiri Pangan.

Berdasarkan laman Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan), Desa Mandiri Pangan adalah desa yang masyarakatnya mempunyai kemampuan untuk mewujudkan ketahanan pangan dan gizi melalui pengembangan subsistem ketersediaan, subsistem distribusi, dan subsistem konsumsi dengan memanfaatkan sumber daya setempat secara berkelanjutan.

Tujuannya adalah meningkatkan ketahanan pangan dan gizi (mengurangi kerawanan pangan dan gizi) masyarakat melalui pendayagunaan sumber daya, kelembagaan dan budaya lokal di perdesaan.

Sayangnya, status Desa Mandiri Pangan di Desa Apung tersebut dipertanyakan oleh kepala desa setempat, Zainuddin. Pasalnya, di desa tersebut sangat jauh untuk dikatakan sebagai Desa Mandiri Pangan. Desa yang dihuni sekitar 700 kepala keluarga (KK) di dua SP ini tidak ada lokasi masyarakat bercocok tanam. Misal, padi.

Menurutnya, justru masyarakat di Desa Apung, khususnya di SP VI, banyak yang bekerja di perusahaan pertambangan batu bara dibandingkan yang bercocok tanam. Sementara, di SP V, masyarakat lebih banyak yang menanam lada.

“Di sini adanya tambang (batu bara). Itu (Desa Mandiri Pangan) akal-akalan saja. Aslinya tidak ada,” kata Zainuddin kepada Bulungan Post, Sabtu (10/3) lalu.

Dia mengatakan, Desa Mandiri Pangan merupakan program dari pemerintah pusat dengam pemberian pinjaman sekitar Rp 25 juta. Namun, tidak berjalan di Desa Apung, karena harus selalu dimonitoring dan dilaporkan secara rutin. Sementara, uang Rp 25 juta dinilai tidak bisa untuk menjalankan program Desa Mandiri Pangan.

“Sampai di mana si uang Rp 25 juta itu. Kalau Desa Mandiri Pangan, seharusnya orang-orang di desa ini tidak harus beli beras, kesejahteraannya sudah bagus. Ini masih ada warga yang makan tiwul, karena tidak bisa beli beras,” ungkapnya.

Zainuddin mengatakan bahwa desa transmigrasi ini awalnya 99 persen masyarakatnya bekerja sebagai petani. Namun, saat ini, banyak warga yang beralih menjadi pegawai perusahaan pertambangan batu bara dan ada juga yang memilih bekerja ke luar kota. Ada pula warga yang memilih bekerja sebagai pembuat batu bata dibandingkan menjadi petani.

Menurut Burnaji, warga SP VI, Desa Apung sangat tidak cocok untuk dijadikan lahan pertanian. Sebab, kondisi tanahnya tidak mendukung sektor pertanian, kecuali jika untuk menanam pohon buah-buahan. Pria paruh baya asal Blitar, Jawa Timur yang mengikuti program transmigrasi pada 2003 ini, mengaku apa yang ditawarkan saat pindah ke Bulungan tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

Dirinya mengungkapkan, sempat menanam padi di lahan seluas 1 hektare dengan mengeluarkan biaya sekitar Rp 3,5 juta. Namun, hasil panen yang didapatkan sangat jauh dari yang diharapkan. Dari lahan 1 hektare, dia hanya mendapatkan hasil padi satu karung.

“Makanya sejak itu saya tidak lagi menanam padi. Kemudian beralih jadi pembuat batu bata sejak 2005. Pernah juga bekerja di tambang, tapi hanya sebentar,” ungkapnya.

Dia menuturkan, karena masalah itulah banyak warga transmigrasi yang tidak betah dan memilih untuk pulang ke kampung halamannya. Sepengetahuannya, lebih dari 50 persen warga transmigrasi kala itu memilih pulang kampung karena lahan pertanian yang dijanjikan tidak sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. (rus/fen)


BACA JUGA

Sabtu, 23 Juni 2018 14:53

Proses Seleksi Sekprov Independen

TANJUNG SELOR – Untuk proses pendaftaran calon pejabat madya di lingkup Pemprov Kaltara beberapa…

Sabtu, 23 Juni 2018 14:51

Jalur Keluarga Miskin Paling Diminati

TARAKAN — Hari pertama Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk jenjang sekolah dasar (SD) dan…

Sabtu, 23 Juni 2018 14:43

Keterbatasan Anggaran Jadi Penyebab Kesulitan Perbaiki Jalan Penghubung Tiga Desa

TANJUNG SELOR - Jalan yang menghubungkan tiga desa di Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan yang rusak…

Jumat, 22 Juni 2018 15:23

Kasus Bayi Terus Dikembangkan, Polisi Sempat Panggil Sejumlah Terduga

TARAKAN – Walaupun masih belum menemukan titik temu, namun Kepolisian tetap optimistis dapat menangkap…

Jumat, 22 Juni 2018 15:09

Empat Pegawai Bolos Kerja

GUBERNUR Kalimantan Utara Irianto Lambrie menegaskan akan memberikan sanksi terhadap aparatur sipil…

Jumat, 22 Juni 2018 15:06

Evaluasi Kepadatan Transportasi

TANJUNG SELOR – Arus mudik dan balik Lebaran 2018 diklaim berjalan lancar dan aman. Meski masih…

Kamis, 21 Juni 2018 14:52

Perbanyak Silaturahmi, Jenguk Senior yang Sakit

Momen Hari Raya Idulfitri dimanfaatkan oleh seluruh umat muslim untuk bersilaturahmi. Tak kecuali Gubernur…

Kamis, 21 Juni 2018 14:49

Jalur Udara Pun Penuh

MASA libur panjang Hari Raya Idulfitri berakhir kemarin (20/6). Para pekerja sudah harus kembali ke…

Kamis, 21 Juni 2018 14:46

Transportasi Air Masih Primadona

TANJUNG SELOR – Transportasi air masih menjadi primadona bagi masyarakat Bumi Benuanta-sebutan…

Jumat, 15 Juni 2018 08:57

Ribuan Umat Islam Padati Baitul Izzah

TARAKAN - Cuaca mendung yang sempat menyelimuti langit di Kota Tarakan pada Jumat (15/6), tidak menghentikan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .