MANAGED BY:
MINGGU
24 JUNI
UTAMA | TANJUNG SELOR | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Jumat, 09 Februari 2018 13:45
Korban Dugaan Keracunan Bertambah
SEMENTARA DITUTUP: Kantin di SMPN 2 Tarakan diberi police line sejak kejadian dugaan keracunan para pelajar, Rabu (7/2).

PROKAL.CO, TARAKAN – Korban dugaan keracunan makanan di SMPN 2 Tarakan pada Rabu (7/2), bertambah. Data terbaru dari pihak sekolah, jumlahnya mencapai 55 orang.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala SMPN 2 Tarakan Pither Mangalehe mengungkapkan, dari jumlah itu, 54 di antaranya merupakan pelajar. Satu korban lain yaitu istri Pither yang sehari-hari bekerja di kantin sekolah.

“Termasuk istri saya. Duluan dia makan dari semua anak. Sehingga sama orang dewasa jadi 55. Dia sempat dirawat juga di puskesmas,” ujar Pither, Kamis (8/2).

Menurutnya, ketika mulai mendapati sejumlah siswa merasakan gejala keracunan makanan, ia langsung menginformasikan kepada penjual makanan di kantin maupun di koperasi melalui pengeras suara untuk menghentikan penjualan makanan.

Semula, ia mendengar laporan kalau istrinya sedang terbaring di kantin, karena dugaan masuk angin. Namun, saat jam istirahat, Pither menanyakan langsung kepada istrinya. Ternyata sang istri mengaku telah memakan nasi uduk yang diduga sumber musibah.

“Biasanya dia belikan suami juga, ternyata kemarin itu dia tidak belikan. Baru saya sadar, ini salah satu korban. Lalu saya panggil anak saya suruh urus ibunya bawa ke puskesmas,” terangnya.  

Sementara itu, hasil pengecekan yang dilakukannya, dari 54 pelajar yang diduga keracunan makanan, 53 di antaranya sudah kembali ke rumah. Termasuk 6 siswa yang sempat dibawa ke RSUD Tarakan untuk mendapat perawatan intensif.

Mereka diperbolehkan pulang pada Rabu sore, sekira pukul 17.00 Wita. Sedangkan satu pelajar masih dirawat di RSUD Tarakan. Dikatakan, pelajar tersebut sempat pulang setelah mendapat perawatan di Puskesmas Karang Rejo, namun dibawa ke rumah sakit pada malam hari, karena kondisinya kembali tidak stabil.

“Saya tadi konfirmasi sama orangtuanya, dimungkinkan besok (hari ini) pulang. Kami juga sudah ke sana (RSUD Tarakan) tadi,” ujarnya.

Sementara itu, dari 53 siswa yang sudah dipulangkan, Pither mengaku belum semua masuk sekolah, kemarin. Beberapa di antaranya minta waktu istirahat untuk memulihkan kondisi, termasuk istrinya. Pihaknya pun bisa memaklumi.

Pihaknya juga menutup sementara waktu kantin yang diduga sumber musibah. Polisi juga telah memasang police line di sekitar kantin. Untuk mengantisipasi agar siswa-siswi tidak kelaparan, koperasi sekolah menjual roti dan air mineral. Selain itu, siswa sudah diinstruksikan juga membawa bekal dari rumah.

Disinggung soal keberadaan penjual makanan di kantin tersebut, Pither mengaku baru pertama kali ada musibah seperti yang terjadi pada Rabu, selama ia bertugas di SMPN 2 Tarakan. Ia pun sering makan di kantin itu.

Dikatakan, kantin sekolah dikelolah sepenuhnya oleh koperasi. Di dalamnya ada dua penjual yang menempati dengan sistem bagi hasil per porsi. Penjual yang satu menjajakan soto ayam, nasi goreng dan mi goreng. Sedangkan penjual lain menyajikan bubur ayam, nasi lalap, ayam penyet dan nasi uduk.

Berdasarkan keluhan sejumlah korban, awal musibah diduga berasal dari penjual yang menjual bubur ayam, nasi lalap, ayam penyet dan nasi uduk. Sebagian korban mengaku merasakan gejala setelah makan nasi uduk. Namun, ada juga yang merasakan setelah makan bubur ayam.

Namun, Pither tidak mau berspekulasi penyebabnya darimana. Termasuk beredarnya kabar kalau beras yang digunakan tidak higienis. Ia menunggu hasil uji Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Tarakan untuk kepastiannya.

Namun, dengan musibah ini pihaknya mendapat pengalaman untuk lebih selektif. Menurut Pither, ia akan mengevaluasi penjual yang akan menempati kantin tersebut. Termasuk melakukan pengawasan terhadap makanan yang akan disajikannya.

“Apa yang boleh dijual, siapa yang boleh di situ, nanti itu wilayah kami dan akan kami evaluasi,” ujarnya.

Namun, ia mengaku, sebenarnya pembinaan terhadap penjual kantin tersebut sudah dilakukan secara berkala oleh Dinas Kesehatan dan Puskesmas Karang Rejo, disertai juga evaluasi. Namun, apa yang terjadi, dianggapnya sebagai musibah yang tidak disengaja dan tak ingin menyalahi penjual kantin.

Pither juga mengaku kebersihan tempat jualan serta kehigienisan makanan mereka cukup terjaga. Bahkan untuk air, ia melihat para penjual menggunakan air galon yang dibeli dari depo.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Subono Samsudi mengaku butuh waktu untuk mengetahui hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan. Sebab, uji laboratorium harus dilakukan di Samarinda.

“Lab kami mestinya mampu melakukan itu, namun karena suatu dan lain hal sehingga harus dikirim ke BPOM Samarinda. Itu biasanya bisa seminggu, bisa dua minggu. Tergantung dari sana. Kalau kita bisa di sini mungkin hitungan hari saja bisa selesai,” ujar Subono.

Pihaknya sudah mengambil sejumlah sisa-sisa makanan di kantin untuk dijadikan sampel uji laboratorium. Selain di kantin, pihaknya juga mengambil contoh dari bahan-bahan makanan yang digunakan penjual di rumahnya. Namun, Subono tidak mengetahui persis berapa item yang dijadikan sampel.

Subono pun tidak mau berspekulasi lebih awal terkait dugaan sementara sumber penyebab keracunan yang berasal beras digunakan. Ia masih menunggu hasil uji laboratorium BPOM Samarinda.

Namun, dengan kejadian ini, semua pihaknya mendapat hikmah. Menurut Subono, pihaknya bersama jajaran terkait serta kepala sekolah dari seluruh SD dan SMP, sudah mendapatkan pengarahan dari kepala daerah untuk meningkatkan pengawasan makanan di sekolah. 

“Intinya di minta dari pihak sekolah untuk melakukan pembinaan dan pemantauan,” ujarnya.

Sementara itu, dari pengakuan salah satu keluarga penjual berinisial AY, bahan-bahan yang digunakan semuanya higienis. Bahkan, sebelum dijual pada hari itu, ia dan keluarga yang lain sempat memakan saat sarapan pagi. Dan, tidak ada masalah.    

“Kami sarapan loh Mas. Ini kan anak-anak saya yang kecil-kecil itu sarapan juga. Insya Allah kalau buat kami aman. Kami pun kaget juga dengan kejadian ini,” ujarnya. (mrs/fen) 


BACA JUGA

Sabtu, 23 Juni 2018 14:53

Proses Seleksi Sekprov Independen

TANJUNG SELOR – Untuk proses pendaftaran calon pejabat madya di lingkup Pemprov Kaltara beberapa…

Sabtu, 23 Juni 2018 14:51

Jalur Keluarga Miskin Paling Diminati

TARAKAN — Hari pertama Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk jenjang sekolah dasar (SD) dan…

Sabtu, 23 Juni 2018 14:43

Keterbatasan Anggaran Jadi Penyebab Kesulitan Perbaiki Jalan Penghubung Tiga Desa

TANJUNG SELOR - Jalan yang menghubungkan tiga desa di Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan yang rusak…

Jumat, 22 Juni 2018 15:23

Kasus Bayi Terus Dikembangkan, Polisi Sempat Panggil Sejumlah Terduga

TARAKAN – Walaupun masih belum menemukan titik temu, namun Kepolisian tetap optimistis dapat menangkap…

Jumat, 22 Juni 2018 15:09

Empat Pegawai Bolos Kerja

GUBERNUR Kalimantan Utara Irianto Lambrie menegaskan akan memberikan sanksi terhadap aparatur sipil…

Jumat, 22 Juni 2018 15:06

Evaluasi Kepadatan Transportasi

TANJUNG SELOR – Arus mudik dan balik Lebaran 2018 diklaim berjalan lancar dan aman. Meski masih…

Kamis, 21 Juni 2018 15:00

Polda Kaltara Terima Helikopter

TANJUNG SELOR - Untuk menunjang kinerja Polda Kaltara, Markas Besar Polisi RI (Mabes Polri) memberikan…

Kamis, 21 Juni 2018 14:52

Perbanyak Silaturahmi, Jenguk Senior yang Sakit

Momen Hari Raya Idulfitri dimanfaatkan oleh seluruh umat muslim untuk bersilaturahmi. Tak kecuali Gubernur…

Kamis, 21 Juni 2018 14:49

Jalur Udara Pun Penuh

MASA libur panjang Hari Raya Idulfitri berakhir kemarin (20/6). Para pekerja sudah harus kembali ke…

Kamis, 21 Juni 2018 14:46

Transportasi Air Masih Primadona

TANJUNG SELOR – Transportasi air masih menjadi primadona bagi masyarakat Bumi Benuanta-sebutan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .