MANAGED BY:
SELASA
18 DESEMBER
UTAMA | TANJUNG SELOR | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

KALTARA

Sabtu, 27 Januari 2018 14:10
NGERI..!! Ada Seribu Lebih Gay di Tarakan

Kadisdik Sebut Ada Guru Berperilaku LGBT

Ilustrasi

PROKAL.CO, TARAKAN – Lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT) kembai menjadi perbincangan hangat masyarakat Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Yakni, terkait akan dibuatnya aturan terkait melegalkan LGBT.

Namun, terlepas persoalan itu, perkembangan LGBT Tarakan dari tahun ke tahun ternyata cukup mengagetkan. Terutama penyuka lelaki sesama lelaki atau kaum gay.

Anggota Komisi II DPRD Tarakan Syamsuddin Arfah, bahkan tidak menyangka perkembangannya begitu pesat, terutama dalam dua tahun terakhir. “Saya lihat ini data untuk Tarakan 2016, lelaki suka sesama lelaki berjumlah 1.048 (orang). Yang waria 117 orang. Pada 2017, 811 orang, warianya 158 orang,” ungkap politisi PKS ini, Jumat (26/1).

Syamsuddin mengaku mendapatkan data itu dari rekannya di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Utara. Itu sebabnya ia pun kaget mendapati data tersebut.  Syamsuddin pun menganggap pola perkembangan kasus penyuka lelaki sesama lelaki ini tidak ubahnya seperti HIV/AIDS. Yakni, seperti fenomena gunung es. Dari awalnya hanya satu orang berkembang menjadi ratusan orang dan tidak memilih siapa pun.

Namun, ia pun tidak menyangsikan perkembangannya yang begitu cepat karena melihat kondisi Tarakan sebagai daerah transit. Sehingga, membuka kesempatan bagi penyakit moral ini berkembang melalui perilaku sehari-hari.

Dengan data yang diperolehnya, Syamsuddin menyarankan kepada semua pihak agar perlu dilakukan segera langkah-langkah penanganan untuk mencegah berkembang lebih luasnya penyakit moral ini. 

Selain perlu dibuat regulasi, yang tak kalah pentingnya, kata Syamsuddin, adalah menyadarkan masyarakat tentang hukum serta bahaya penyakit moral ini melalui pendidikan agama, formal, serta kebudayaan.

Menurutnya, selain dianggap perbuatan dosa oleh agama, penyakit moral ini juga bisa berdampak pada penyakit HIV/AIDS. Sehingga, sangat berbahaya bagi manusia. Budaya daerah juga tidak pernah mengajarkan hal-hal seperti itu sehingga perlu dijauhi.

Namun, yang paling penting baginya adalah penguatan pada aspek keluarga, karena keluarga merupakan benteng terakhir dari perlindungan. Caranya, dengan mengampanyekan sebuah gerakan yang mampu melindungi keluarga dari bahaya penyakit moral ini.

Misal, kata dia, membatasi pergerakan anak-anak bermain sosial media karena dianggap bisa memengaruhi. Selain itu, memberlakukan jam belajar mulai pukul 6 sampai 8 malam hingga membatasi jadwal keluar rumah tidak lebih dari jam 10 malam.

“Kalau keluarganya kuat, maka insya Allah yang ada di dalam lingkup rumah tangga itu kuat. Tapi kalau keluarga tidak kuat, ya habis,” tuturnya.  

Hal lain adalah koordinasi yang intens dari semua pihak. Mulai dari pemberdayaan perempuan, Dinas Kesehatan, BNN, dan Dinas Pendidikan, kepolisian hingga kepada organisasi agama dan tokoh masyakat. Mereka harus duduk satu meja membicarakan langkah-langkah konkret pencegahan, tidak bisa berjalan masing-masing.

“Bagaimanapun saya menganggap ini termasuk dari kondisi moral dari kota kita. Kita kota transit, pintu gerbang masuk Kaltara ada di sini sehingga hal yang bersifat moral harus diperkuat,” lanjutnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tarakan Ilham Nor, mengaku sudah mengantisipasi perkembangan penyakit moral ini bagi pelajar.

“Kami dari pihak sekolah senantiasa melakukan pengawasan yang ketat terhadap gejala-gejala yang timbul. Yang kedua, kami lihat pola pergaulan mereka sehari-hari. Kalau kita lihat dia mulai senang dengan laki-laki, itu kan ciri-ciri pertamanya. Nah, hati-hati,” ujarnya.

Terlepas antisipasi terhadap penyebaran LGBT di kalangan pelajar, Ilham Nor menyayangkan adanya komunitas LGBT di Tarakan. Organisasi inilah yang dinilainya ikut memengaruhi perkembangan LGBT di Tarakan, karena menjadi wadah berkumpul dan berkomunikasi mereka. Bahkan, dia juga menyebut tenaga pendidik pun ada yang berperilaku seperti itu.

“Guru pun seperti itu. Karena mungkin dari pergaulan selama ini,” ujarnya. (mrs/fen)


BACA JUGA

Selasa, 18 Desember 2018 11:04

118.821 KTP-el Dibakar

TARAKAN – Kartu tanda penduduk yang telah invalid atau tidak…

Selasa, 18 Desember 2018 10:57

Embung Bengawan Suplai 100 Liter/Detik

TARAKAN – Masyarakat di Kecamatan Tarakan Utara segera menikmati distribusi…

Senin, 17 Desember 2018 12:59

Lubang Jadi Penghias Jalan Lestari

TARAKAN – Pengendara yang melintas di Jalan Lestari sekitar RT…

Senin, 17 Desember 2018 12:54

Iuran JKN-PBI Bakal Naik

TARAKAN – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mulai memikirkan rencana…

Senin, 17 Desember 2018 12:52

PGE Seriusi Pembangunan PLTS

TARAKAN – Rencana PT Patra Global Energy berinvestasi di Tarakan…

Minggu, 16 Desember 2018 11:47

Paripurna HUT Tarakan Ditunda

TARAKAN – Pelaksanaan rapat paripurna istimewa yang masuk rangkaian peringatan…

Minggu, 16 Desember 2018 11:35

Taman Berkampung Diusik Tangan Jahil

TARAKAN – Upaya pemerintah daerah mempercantik wajah kota, kerap berhadapan…

Sabtu, 15 Desember 2018 10:47

WOW BANYAK BANGET..!! Tunggakan Peserta JKN Capai Rp 31 M

TARAKAN – Defisit anggaran yang dialami Badan Penyelenggara Jaminan Sosial…

Sabtu, 15 Desember 2018 10:45

Pengelolaan TPS3R Diserahkan ke Masyarakat

TARAKAN – Pembangunan tempat pengolahan sampah reuse reduce recycle (TPS3R)…

Sabtu, 15 Desember 2018 10:13

Dewan Desak Penutupan Lokalisasi

TANJUNG SELOR – Rencana penutupan lokalisasi yang tak kunjung terealisasi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .