MANAGED BY:
SABTU
20 JANUARI
UTAMA | TANJUNG SELOR | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Rabu, 03 Januari 2018 13:24
Sempat Punya Firasat, Ingat Pesan Terakhir Sang Ayah

Korban Meninggal Tragedi Speedboat Anugrah Express: Sumirno dan Arjuna (2)

DUKA MENDALAM: Fitriani, anak kedua almarhum Sumirno bersedih atas kepergian ayahnya.

PROKAL.CO, Niat ingin melihat kondisi anaknya keduanya, Dwi Arif di RSUD Tarakan yang luka parah akibat kecelakaan pada Ahad (31/12) dini hari, Sumirno justru menjadi salah satu korban kecelakaan speedboat Anugrah Express bersama cucunya, Arjuna yang masih berusia 20 bulan.

 

MUHAMMAD RAJAB, Tarakan

 

FITRIANI, anak bungsu dari pasangan almarhum Sumirno dan Siti Rahayu, tak henti-hentinya menangis di takziah malam pertama kepergian ayahnya. Tubuhnya juga masih terlihat lemas karena musibah beruntun yang menimpanya.

Sesekali ia coba ditenangkan oleh ibunya yang berada di sampingnya sambil terus mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Alquran dari pelayat yang datang. Keluarga Sumirno memang paling berduka dengan tragedi kelam terbaliknya speedboat Anugrah Express, Senin (1/12) pagi. Bagaimana tidak, hanya berselang beberapa jam saja tiga anggota keluarga mereka mengalami kecelakaan. Dua di antaranya meninggal dunia.

Setelah acara selesai, Fitriani mulai bisa tenang. Ia pun bersedia meladeni awak media yang ingin menggali informasi tentang musibah yang  dialami keluarganya. Sambil duduk di sofa dengan mata berkaca-kaca dan sesekali menahan isak tangis, ibu berusia 22 tahun itu menceritakan satu per satu peristiwa yang dialaminya.

Fitriani memang paling bersedih di antara keluarganya. Selain kehilangan sosok ayah yang sangat dibanggakannya, wanita berhijab ini juga harus merelakan anak satu-satunya, Arjuna menghadap Ilahi di usia yang lagi lucu-lucunya.

Fitriani tahu persis detik-detik bagaimana ayah dan anaknya dipanggil menghadap Ilahi lewat tragedi terbaliknya speedboat Anugrah Express. Sebab, ia ikut dalam perjalanan memilukan itu.

Sebelumnya, Sumirno dan keluarganya memang berada di Tanjung Selor untuk liburan di rumah mertuanya, di Jalan Jelarai. Bersamanya ada istrinya, Siti Rahayu, anak keduanya Fitriani, serta cucunya Arjuna.

Awalnya, Sumirno dan keluarganya memang tidak ada rencana pulang di awal tahun. Namun, karena mendapatkan kabar bahwa anak keduanya, Dwi Arif mengalami kecelakaan  saat turun bekerja pada Ahad dini hari, keputusan pulang pada hari itu juga diambil agar bisa melihat kondisi anaknya.

Bahkan, karena gelisah ingin mengetahui kondisi anaknya, Sumirno yang rencana akan bertolak siang hari menggunakan pesawat, memutuskan berangkat lebih awal. Dengan alasan mendesak, dipilihlah jadwal keberangkatan pertama speedboat Anugrah Express yang menurut jadwal berangkat sekitar pukul 07.30 Wita.

Ketika menaiki speedboat tersebut, Fitriani memang sudah merasakan ada yang tidak beres saat akan melakukan perjalanan. Dari pantauannya, kondisi di dalam speedboat sesak dengan penumpang, karena dipaksakan mengangkut melebihi kemampuannya.

“Di belakang itu sudah sempit. Karena saya orang Dinas Perhubungan, saya lihat itu sudah penuh, sampai dipaksakan,” tuturnya.

Sebelum berlayar, Fitriani juga sempat mendengar pesan dari penumpang lain kepada almarhum Sumirno untuk ikut pelayaran selanjutnya saja, karena kondisi yang sudah penuh. Namun, karena sudah terlanjur membeli tiket, Sumirno dan keluarga tetap memutuskan berlayar dengan speedboat tersebut.

Mereka duduk di bagian belakang dengan kursi berhadap-hadapan. Kesemuanya duduk berdampingan di sisi kanan. Namun, Fitriani mengaku tidak mengenakan life jacket atau baju pelampung. 

Saat speedboat mulai meninggalkan Pelabuhan Kayan II, Fitriani sedang bermain dengan anaknya, Arjuna yang menyuapinya dengan kerupuk kentang. Sesekali ia juga mengutak-atik handphone untuk berkomunikasi dengan adiknya yang sedang di IGD RSUD Tarakan, sebelum dioperasi.   

“Mama.. mamam, mama.. mamam, aku mangap, aku makan makanan yang dia (Arjuna) suapin aku. Dia makan kerupuk kentang, dia suka kerupuk kentang, dia nyuapin sepanjang perjalanan itu dari dermaga sampai tempat kejadian,” beber Fitriani sambil berlinang air mata menceritakan kenangan terakhir ia dan anaknya.

Baru beberapa menit lepas dari Pelabuhan Kayan II, tiba-tiba saja speedboat menghantam sesuatu dan oleng ke kanan lalu terbalik. Keceriaan pun seketika berubah menjadi duka. Fitriani tertimpa dengan penumpang lain. Sedangkan anaknya dipegang sama ibunya.  

Menghadapi situasi panik seperti itu, Fitriani lebih dahulu menyelamatkan diri karena kebetulan melihat cahaya sebagai jalan menuju permukaan sungai sehingga ia selamat. Namun, ayah, ibu serta anaknya masih di dalam speedboat.

“Aku sudah tidak tahu lewat mana, begitu aku lihat cahaya aku harus keluar. Aku pakai pelampung mau nyebur lagi sudah ditahan sama bapak-bapak, jangan nyebur lagi, ada tim yang bakal nyelamati. Jadi aku ngelihatin kapal itu dari tengah sampai di dorong ke pinggiran,” bebernya.

Arjuna sendiri ketika itu sudah sulit untuk diselamatkan neneknya, karena kondisi air yang terus menyesaki speedboat. Sehingga, anaknya terminum air. Sementara ibunya masih bisa bertahan dan selamat setelah ditemukan tim evakuasi.

Sementara menurut pengakuan korban selamat yang diperolehnya, kondisi ayahnya, Sumirno, tidak sadarkan diri karena terbentur benda keras saat speedboat menghantam sesuatu yang diduga kayu. Kaki ayahnya juga terjepit dengan sesuatu sehingga sulit untuk keluar. 

Fitriani baru menemukan seluruh anggota keluarga yang ikut dalam pelayaran tersebut di RSUD Tanjung Selor. Ia masih bisa menyapa ibunya yang hidup. Namun, tidak dengan ayah dan anak tercintanya yang sudah kaku tak bernyawa.

“Aku sampai di rumah sakit ketemu ibuku dulu. Ibuku bilang, bapak sama anakku sudah tidak ada. Tapi aku tidak percaya kalau belum lihat. Selang beberapa jam aku baru dikasih lihat anakku, karena aku juga sempat tidak kuat,” tuturnya.

Sebelum musibah itu terjadi, Fitrani juga masih ingat pesan terakhir ayahnya ketika akan menaiki speedboat. Fitriani awalnya menyuruh Sumirno lebih dahulu berangkat dengan speedboat tersebut agar bisa melihat anaknya di RSUD Tarakan. Sedangkan ia dan anak, berencana naik speedboat kedua, karena kondisi penumpang yang sesak di speedboat pertama.

“Aku sebenarnya tidak mau naik, karena kelebihan juga, sampai ada orang di atasnya, sedangkan aku bawa anak kecil. Jadi rencana aku mau naik speedboat kedua. Aku bilang, Pak, Bapak naiklah duluan biar bisa lihat Dwi juga. Bapakku bilang, enggak, aku mau jaga kalian. Ya sudah, aku beli tiket,” kenangnya.  

Fitriani pun tidak bisa melupakan sosok ayahnya sosok yang sangat membanggakan keluarga. “Bapak itu pekerja keras, selalu berusaha membahagiakan orang-orang di rumah, sayang banget sama anak. Biar dia suka marah, tapi karena dia sayang,” ujar pegawai Bandara Juwata Tarakan ini.

Tidak hanya sayang pada anak-anaknya, Sumirno juga perhatian pada cucu-cucunya. Buktinya, beber Fitriani, almarhum sangat dekat dengan Arjuna, anak semata wayangnya.

“Si Junanya pun kalau bapakku pulang kerja, dengar suara motor kainya saja udah ngintip di jendela. Dia cucu pertama, bapak is the best-lah pokoknya. Apa pun yang anaknya minta selalu mengusahakan biarpun bikin susah,” tuturnya.

Karena kedekatannya itulah, keluarga berinisiatif mengebumikan mereka dalam satu liang lahat. Jasad Sumirno dikuburkan dengan kondisi berada paling bawah, sementara cucunya di atas. (*/fen)


BACA JUGA

Jumat, 19 Januari 2018 11:25

Bankeu Revisi RTRW Bakal Dipangkas

TANJUNG SELOR – Pemberian bantuan keuangan (Bankeu) dari Pemprov Kaltara kepada Pemkab Bulungan…

Kamis, 18 Januari 2018 11:53

Dua Raperda Amankan Jalan Kaltara

TANJUNG SELOR – Pembangunan jalan di Kaltara hingga kini terus dilakukan, baik oleh pemerintah…

Kamis, 18 Januari 2018 11:46

Lagi, Mobil Nyungsep di Sei Sajau

TANJUNG SELOR – Jalan menanjak di sekitar Kilometer 16 poros Bulungan-Berau, kembali memakan korban.…

Kamis, 18 Januari 2018 11:44

Agen Kapal Survei Kerusakan Dermaga

TARAKAN – Agen kapal tugboat KSA 32/BG Intan 7504 segera merealisasikan janjinya memperbaiki atap…

Rabu, 17 Januari 2018 13:36

Revisi Perda GSB, Bangunan Lama Dikecualikan

TANJUNG SELOR - Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2012 tentang Garis Sempadan Bangunan (GSB) ditargetkan…

Rabu, 17 Januari 2018 13:11

Status KLB Difteri Berdampak ke Pariwisata

TARAKAN – Penyakit difteri yang mewabah di Indonesia, termasuk di Kalimantan Utara, ikut berdampak…

Rabu, 17 Januari 2018 13:10

Tol Udara Dimulai Tahun Ini

TANJUNG SELOR – Kementerian Perhubungan sejak tahun lalu mulai menggulirkan program tol udara…

Rabu, 17 Januari 2018 12:57

Akan Panggil Nakhoda Tugboat

TARAKAN – Meski diduga karena faktor cuaca, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP)…

Rabu, 17 Januari 2018 12:54

Tunggu Persetujuan Penlok dari Kemenhub

TANJUNG SELOR – Kondisi jalan di Kaltara perlu diamankan dari ancaman kerusakan akibat banyaknya…

Selasa, 16 Januari 2018 11:00

Penumpang Minsen Nyaris Jadi Korban

TARAKAN – Penumpang di Pelabuhan Tengkayu I Tarakan dibuat heboh dengan peristiwa yang terjadi…

Anak SD Jadi Korban Cabul

Daya PLN Bertambah 3 MW

Posisi Laura Terancam, Gubenur Tunggu Surat Resmi PTUN Samarinda

Hanya Butuh Waktu 30 Menit, Rekonstruksi Pembuangan Janin

Tol Udara Dimulai Tahun Ini

Akan Panggil Nakhoda Tugboat

Lagi, Mobil Nyungsep di Sei Sajau

Tunggu Persetujuan Penlok dari Kemenhub

Dua Raperda Amankan Jalan Kaltara

Pembentukan Tim N219 Tunggu Arahan Gubernur
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .