MANAGED BY:
KAMIS
26 APRIL
UTAMA | TANJUNG SELOR | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Rabu, 13 Desember 2017 12:07
Biar Tidak Pikun, Rajin Sedekah agar Rezeki Bertambah

Mbah Djuwito, Tetap Berjualan Marning di Usia Senja

JUALAN MARNING: Mbah Djuwito (kiri) melayani warga yang ingin membeli dagangannya, Selasa (12/12).

PROKAL.CO, Usia senja biasanya digunakan sebagian banyak orang untuk berada di rumah, Namun, tidak dengan Djuwito. Di usia yang menurut pengakuannya sudah 82 tahun, ia masih menjalani rutinitas berjualan marning, makanan dari jagung.

 

MUHAMMAD RAJAB, Tarakan

 

USIA Djuwito boleh saja sudah di makan waktu. Tubuhnya juga sudah terlihat membungkuk. Kulit yang membalut tulang-tulangnya pun sudah keriput dan hitam karena sering tersengat terik matahari. Namun, semangatnya mengais rezeki patut dicontoh.

Pria kelahiran Jombang, Jawa Timur ini tidak mau menyerah pada keadaan untuk terus mengumpulkan selembar demi selembar rupiah. Hasilnya, hanya dengan berjualan marning ia mampu menafkahi keluarganya.

Mbah Djuwito –begitu dia biasa disapa- bisa didapat berjualan di Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya di depan Kantor Pos. Tidak sulit untuk mengenalnya, karena hanya ia satu-satunya pedagang marning yang berjualan di lokasi itu.

Untuk berjualan, Mbah Djuwito menggunakan sepeda model tempo dulu yang sudah dimodifikasi dengan tambahan tempat menyimpan marning di bagian belakang.

Beberapa bungkus marning dan kedelai goreng disajikannya di atas tempat itu dengan harga Rp 10 ribu per bungkus. Jika sudah terbeli, ia pun mengambil lagi dari tempat penyimpanannya untuk disajikan kepada pembeli.

Melihat usianya yang sudah uzur, jelas bukan pekerjaan mudah bagi Mbah Djuwito. Namun, ia masih mampu mengayuh dari rumahnya di daerah Karang Balik menuju Kantor Pos yang berjarak kurang lebih 5 kilometer.

“Hidup saya ya ini (berjualan marning),” katanya membuka pembicaraan dengan Bulungan Post, Selasa (12/12).

Ketika pertama kali berjualan marning, 1995 silam, Mbah Djuwito yang kala itu masih merasa kuat secara fisik, berjualan dengan cara keliling Tarakan. Namun, kondisi fisiknya yang terus dimakan waktu, membuatnya memilih berdagang di satu tempat saja sejak 2015 lalu.

Meskipun hanya menunggu pembeli yang datang, tapi rezeki yang didapatnya setiap hari tidak pernah sedikit. Bahkan, tidak jarang jualannya habis diborong pembeli, dan ia bisa pulang lebih cepat.

Lalu, untuk apa Mbah Djuwito berjualan marning dalam usianya yang sudah sangat senja itu? Padahal, di kota-kota besar orang seusianya sudah menikmati sisa hidupnya dengan bersantai. Mbah Djuwito juga memiliki anak yang bisa diharapkan bekerja untuk menafkahi hidupnya.

“Aku bekerja untuk menghindari jompo dan pikun. Tujuannya hanya itu. Otak saya main terus, tenaga saya juga masih bisa biar pun kekuatannya sudah kurang,” tuturnya.

Sambil melayani beberapa pembeli, Mbah Djuwito melanjutkan ceritanya bahwa selain untuk menjaga tubuhnya agar tetap sehat di usia senja, ia berjualan marning karena anti meminta-minta kepada orang lain. Mbah Djuwito bahkan menekankan tidak suka minta tolong, meskipun sudah tua.

Tidak hanya itu, melalui jualan marning juga, Mbah Djuwito menemukan filosofi hidup bahwa ternyata ia bisa mendapatkan rezeki tanpa harus bekerja pada orang lain. Ia bisa berusaha tanpa harus diperintah orang lain.

“Saya ingin yang merdeka, tidak banyak risiko. Ya, tidak ada orang lepas dari risiko, tidak ada. Tapi kita cari yang ringan, tidak banyak makan ini itu. Ini ringan, tenaga juga ringan. Saya tidak suka diperintah. Saya orang miskin, tapi saya tidak suka diperintah. Namun, sedapat mungkin saya perintah. Tapi kalau perintah harus ada biayanya,” ujarnya.

Sebelum berjualan marning, Mba Djuwito bertutur bahwa ia dulunya bekerja sebagai penyedia jasa pemborong bangunan. Dimana ada orang yang membutuhkan tenaganya, baik itu mengecat, membuat bangunan maupun mebel ia penuhi.

Namun, lama kelamaan pria yang mengaku sudah tinggal di Tarakan sejak 1982 itu, merasa tidak nyaman. Alasan utamanya karena ia memikirkan kesehatan. Terutama saat kerja di pembuatan mebel yang setiap hari harus mencium bau cat dan pernis yang dianggapnya bisa mengganggu kesehatan.

“Kerja di mebel itu sama dengan orang hobi minum. Lama-lama menyerang dada. Di situlah saya berpikir bagaimana supaya saya ini tidak bekerja macam itu. Artinya, hadapi suasana minuman keras (bau cat dan pernis),” tuturnya.

Setelah pertanyaan itu menguasai benaknya, pada 1995 Mbah Djuwito memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Ia lalu berpikir bagaimana tetap bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, namun bekerjanya lebih ringan dan santai di rumah.

Terlintaslah di pikiran Mbah Dwujito untuk menekuni usaha kuliner. Ia pun mencoba mencari referensi dengan mencari kuliner apa yang sekiranya belum dijual di Tarakan kala itu.

“Apa ya yang kira-kira di Tarakan itu ada? Itu tidak gampang kan. Saya cari keliling, waktu itu. Soalnya makanan Jawa di sini sudah tumplek. Semua ada. Apa yang belum ada, ya ini (marning),” katanya sambil memandangi awak media ini.

Camilan marning ini merupakan makanan yang berasal dari kampungnya, Jombang. Mbah Djuwito sudah mampu membuatnya ketika masih tinggal di kota asalnya. Saat kecil, ia mengaku sering dibuatkan marning jika sedang menangis. Lama-kelamaan ia pun belajar dan pandai membuatnya sendiri.

Sebenarnya, kata Mbah Djuwito, usaha marning telah banyak mengajarkannya tentang arti hidup. Yang paling utama adalah belajar ikhlas dan sabar dalam mendapatkan rezeki dari Yang Maha Kuasa dengan menekuni usahanya.

Ia mencontohkan, tidak banyak di Tarakan orang yang mau berjualan marning. Kenapa demikian? Karena proses membuatnya membutuhkan waktu, apalagi kalau cuaca tidak bersahabat (hujan), bisa membuat jagung yang merupakan bahan dasar marning lama mengering. Pastinya juga akan berdampak pada dagangan. 

Belum lagi bicara dari sisi modal dan pendapatan. Menurutnya, jika tidak disertai rasa ikhlas dan sabar dalam menekuni usaha ini, sulit untuk bisa bertahan lama. 

“Bikin marning itu kalau dihitung-hitung modalnya sekian, untungnya sekian, tidak ngejar. Ibaratnya orang diberi gaji Rp 50 ribu zaman sekarang, mau kah satu hari? Jadi, dihubungkan dengan cara kerjanya tidak mengejar,” paparnya.

Tapi, Mbah Djuwito pantang menyerah. Baginya, Yang Maha Kuasa lah pemberikan rezeki. Usaha berjualan marning hanya fasilitas saja untuk mendapatkannya. “Allah SWT Yang Maha Kaya, Maha Bijaksana, Maha Pemurah. Yang penting aku kerja yang baik, pasti dikasihkan rezekinya,” ujarnya.

Betul saja, Selasa pagi, ketika mengawali dagangannya, Mbah Djuwito memperlihatkan pendapatan pertamanya sudah mencapai Rp 150 ribu. Sementara setiap hari berjualan marning, Mbah Djuwito bisa membawa pulang pendapatan sampai Rp 500 ribu per hari. Kuncinya, yakin dengan sungguh-sungguh kepada Yang Maha Kuasa.  

Tidak hanya itu, Mbah Djuwito juga mempraktikkan ajaran agama Islam yang sesungguhnya melalui sedekah. Dimana jika rajin menyumbang, pasti Allah SWT akan menambah rezeki.

“Saya orang miskin, tapi saya bersedekah. Allah SWT Maha Kaya, saya punya itu. Begini praktik saya hidup. Sedangkan orang tidak berani bikin marning,” tuturnya.

Melelalui penghasilan berjualan marning, Mbah Djuwito mengaku bisa memenuhi segala keperluan istri dan satu orang anaknya dalam jumlah berapa rupiah pun yang dibutuhkan. Ia juga mampu membayar rumah kontrakannya tanpa harus meminjam ataupun mengutang kepada orang lain.  

Tidak itu saja, Mbah Djuwito juga banyak mendapatkan rezeki dari Allah SWT melalui pemberian bantuan lewat orang-orang yang peduli akan hidupnya. Bahkan, untuk jenis sembako bantuan yang didapatkannya, ia sumbangkan lagi ke warga yang membutuhkan, karena sudah terlalu banyak di rumahnya. (*/fen)


BACA JUGA

Rabu, 25 April 2018 12:58

Disdik Kaltara Belajar dari Pengalaman

TANJUNG SELOR – Penerapan soal Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) menggunakan High Order…

Selasa, 24 April 2018 12:35

Transportasi Air Jadi Fokus Kapolda

MESKI baru Juni nanti,persiapan arus mudik Lebaran Idulfitri tahun ini menjadi perhatian khusus bagi…

Selasa, 24 April 2018 12:34

Mendagri Tegaskan Semua Prioritas

TANJUNG SELOR – Pemekaran Tanjung Selor sebagai daerah otonomi baru (DOB), karena merupakan ibu…

Selasa, 24 April 2018 12:26

Kaltara Otonomi Penuh, Tjahjo: Jangan Cuma Bawa Hasil

TANJUNG SELOR – Kalimantan Utara memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Di provinsi…

Senin, 23 April 2018 10:45

Disdik Ultimatum Satuan Pendidikan

TARAKAN - Kepala Dinas Pendidikan Kaltara Sigit Muryono mengingatkan kepada satuan pendidikan penerima…

Senin, 23 April 2018 10:42

Sempat Ingin Jadikan Hiasan

TARAKAN – Mortir sisa perang kembali ditemukan warga. Kali ini ditemukan di Kelurahan Kampung…

Minggu, 22 April 2018 00:10

Beli Pesawat, Pemprov Bahas Skema Pembayaran

TANJUNG SELOR - Rencana pembelian pesawat N219 Nurtanio yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia (DI)…

Minggu, 22 April 2018 00:06

Bantuan Kapal Akan Ditarik, Daerah Terancam Tak Dapat Bantuan

TANJUNG SELOR – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Utara akan menarik kembali kapal…

Minggu, 22 April 2018 00:03

Produksi di Atas 2015 Tak Bebas Denda

TANJUNG SELOR - Program pemutihan pajak kendaraan bermotor yang diatur dalam Peraturan Gubernur (Pergub)…

Sabtu, 21 April 2018 11:02

Meski Dicoret, Dishub Tetap Siapkan DED Kereta Api

TANJUNG SELOR – Dicoretnya proyek pembangunan jalur kereta api di Kalimantan Timur oleh Presiden…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .