MANAGED BY:
SABTU
20 JANUARI
UTAMA | TANJUNG SELOR | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | KALTARA | EKONOMI | KOMBIS | OLAHRAGA

UTAMA

Selasa, 28 November 2017 13:46
Puluhan Tahun Beroperasi, Berharap Kebijakan Presiden

Arti Penting MAF bagi Warga Perbatasan di Kaltara

BERPERAN PENTING: Pesawat MAF ketika mendarat di lapangan terbang Long Nawang, beberapa waktu lalu.

PROKAL.CO, Kebaradaan Mission Aviation Fellowship (MAF) sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat perbatasan. Karena dengan menggunakan pesawat berbadan kecil, MAF sudah puluhan tahun melayani warga pedalaman dan perbatasan Kaltara.

 

MUHAMMAD RAJAB, Tarakan 

 

OFFICE Manager MAF Tarakan Tom Chrislay mengungkapkan, pesawat MAF sudah melayani masyarakat Kaltara sejak 45 tahun lalu, tepatnya pada 1972. Kala itu, Kaltara masih menjadi bagian dari Kalimantan Timur.

Di bawah bendera salah satu yayasan internasional, MAF hadir dengan misi kemanusiaan. Yakni, membantu masyarakat perbatasan yang membutuhkan layanan penerbangan. Terutama bagi mereka yang harus mendapatkan tindakan medis lebih lanjut.

“Operating sertifikat (OC) kami part 91, non niaga, karena yayasan. Kami tidak bisa jadi I35, karena bukan niaga. Kalau jadi niaga tidak ada sponsor yang mau memberi donasi terhadap MAF,” kata Tom kepada Bulungan Post, Senin (27/11).

Sebagai yayasan, dana operasional MAF ditanggung oleh donatur internasional. Termasuk juga pesawat yang digunakan merupakan bantuan dari mereka yang peduli akan kemanusiaan.

Namun, karena biaya operasional penerbangan yang sangat mahal, MAF hanya mampu menanggung 50 persen saja. Karena itulah pihaknya berupaya mendapatkan izin dari pemerintah pusat untuk menarik biaya tiket dari masyarakat.

Upaya tersebut berbuah izin khusus, karena kala itu pemerintah merasa terbantu untuk bisa membuka keterisolasian masyarakat di pedalaman dan perbatasan.

Izin menarik tiket kepada warga perbatasan inilah yang diharapkan bisa menutupi biaya operasional MAF secara keseluruhan. Namun, pihaknya tetap berupaya menciptakan penerbangan yang murah dan bisa dijangkau warga.  

“Sejak masuk (beroperasi di Kaltara), sistem MAF memang seperti itu, sharing donation. Kami punya 50 persen donatur internasional yang akan mampu menciptakan biaya penerbangan murah. Pilot tidak dibayar, pesawat disumbangkan. Satu-satunya cara dengan menjadikan masyarakat sebagai donatur. Kalau tidak dipungut biaya mungkin tidak tercipta keadilan,” paparnya.  

Meski menarik biaya tiket, MAF tetap mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat perbatasan. Sulitnya mendapatkan transportasi yang cepat untuk bisa menjangkau wilayah perkotaan dan sebaliknya, membuat masyarakat bergantung pada MAF.

Cara seperti inilah yang membuat MAF mampu bertahan hingga sekarang. Padahal, di masa lalu selain MAF masih ada maskapai perintis lain yang juga melayani warga perbatasan. Di antaranya DAS.

Sampai pada akhir 2015 lalu, ketika Kementerian Perhubungan di pimpinan Ignatius Jonan, ada pihak lain yang mempermasalahkan izin penerbangan MAF.  Dengan pertimbangan itu, Kementerian Perhubungan merevisi izin penerbangan MAF kala itu dengan terbitnya Kepmenhub Nomor 59/2016 yang berlaku hanya setahun. Sejak saat itu, hingga sekarang izin MAF terus diperbaharui hingga akhirnya terbit Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 467/2017 yang tidak memperpanjang lagi izin mengangkut penumpang dan barang oleh MAF.

Padahal menurutnya, kerja di MAF sama juga dengan kerja ikhlas. Sebagai contoh, untuk pilot yang kebanyakan berasal dari luar negeri, sejak awal MAF beroperasi mereka tidak boleh berharap pada gaji.

Justru yang terjadi, para pilot yang harus mencarikan dana bagi MAF melalui donatur yang bersedia menyumbangkan dana minimal USD 1.000. “Mereka keliling gereja, teman-teman, saudara yang mau menyumbang. Terkumpul sekian ribu dollar baru bisa dikirim ke Indonesia,” ungkap Tom. 

MAF akhirnya mampu bertahap dan merawat pesawat-pesawat hingga masih bisa melayani masyarakat perbatasan dan pedalaman sampai sekarang. Saat ini, MAF memiliki dua pesawat lama jenis Cesna 206 bermesin piston berbahan bakar avgas. Dua pesawat lain model baru jenis Kodiak K-100 berbahan bakar avtur. 

Salah satu warga perbatasan yang merasakan keberadaan MAF, Adri Patton, mengakui betapa pentingnya keberadaan pesawat MAF bagi masyarakat pedalaman. Karena itu, sangat wajar bila masyarakat menuntut beroperasinya kembali pesawat MAF.

“Tuntutan masyarakat ini sangat wajar. Selaku putra dan mantan kepala Badan Perbatasan, saya paham sekali bahwa MAF sudah tahun 72 melayani penerbangan membuka keterisolasian yang ada di perbatasan,” tuturnya.

Karena itu, Adri Patton meminta kepada pemerintah pusat untuk memberikan kesempatan lagi bagi MAF melayani warga pedalaman dan perbatasan. Ini bila mengacu pada Nawacita Presiden Joko Widodo yang ingin membangun Indonesia dari pinggiran.

Menurutnya, mestinya pemerintah pusat berterima kasih kepada MAF, karena sudah puluhan tahun melayani masyarakat pebatasan. Bahkan, sebagian besar pesawat yang digunakan adalah pesawat yang tidak layak terbang. Namun, MAF mampu memeliharanya dengan baik sehingga layak terbang.

“Karena itu, saya meminta kepada Presiden Joko Widodo, membangun Indonesia dari pinggiran berarti membangun Indonesia dari perbatasan. Dan, mempertahankan NKRI itu melalui perbatasan,” ujarnya. (*/fen)


BACA JUGA

Sabtu, 20 Januari 2018 12:46

Lahan Belum Jelas, Rp 80 M Kembali ke Pusat

TANJUNG SELOR – Pengembangan Bandara Tanjung Harapan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan masih terkendala…

Sabtu, 20 Januari 2018 12:45

Puluhan Hektare Sawah Terendam, Petani Terancam Gagal Panen

TANJUNG SELOR – Hujan yang mengguyur Kabupaten Bulungan dalam beberapa hari terakhir, membuat…

Sabtu, 20 Januari 2018 12:41

Pekerja Tak Gunakan AP, Kontraktor Proyek Ditegur Disnaker

TANJUNG SELOR – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dhakiri mencanangkan peringatan hari Keselamatan…

Jumat, 19 Januari 2018 11:25

Bankeu Revisi RTRW Bakal Dipangkas

TANJUNG SELOR – Pemberian bantuan keuangan (Bankeu) dari Pemprov Kaltara kepada Pemkab Bulungan…

Kamis, 18 Januari 2018 11:53

Dua Raperda Amankan Jalan Kaltara

TANJUNG SELOR – Pembangunan jalan di Kaltara hingga kini terus dilakukan, baik oleh pemerintah…

Kamis, 18 Januari 2018 11:46

Lagi, Mobil Nyungsep di Sei Sajau

TANJUNG SELOR – Jalan menanjak di sekitar Kilometer 16 poros Bulungan-Berau, kembali memakan korban.…

Kamis, 18 Januari 2018 11:44

Agen Kapal Survei Kerusakan Dermaga

TARAKAN – Agen kapal tugboat KSA 32/BG Intan 7504 segera merealisasikan janjinya memperbaiki atap…

Rabu, 17 Januari 2018 13:36

Revisi Perda GSB, Bangunan Lama Dikecualikan

TANJUNG SELOR - Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2012 tentang Garis Sempadan Bangunan (GSB) ditargetkan…

Rabu, 17 Januari 2018 13:11

Status KLB Difteri Berdampak ke Pariwisata

TARAKAN – Penyakit difteri yang mewabah di Indonesia, termasuk di Kalimantan Utara, ikut berdampak…

Rabu, 17 Januari 2018 13:10

Tol Udara Dimulai Tahun Ini

TANJUNG SELOR – Kementerian Perhubungan sejak tahun lalu mulai menggulirkan program tol udara…

Anak SD Jadi Korban Cabul

Posisi Laura Terancam, Gubenur Tunggu Surat Resmi PTUN Samarinda

Daya PLN Bertambah 3 MW

Hanya Butuh Waktu 30 Menit, Rekonstruksi Pembuangan Janin

Lagi, Mobil Nyungsep di Sei Sajau

Tol Udara Dimulai Tahun Ini

Akan Panggil Nakhoda Tugboat

Dua Raperda Amankan Jalan Kaltara

Revisi Perda GSB, Bangunan Lama Dikecualikan

Tunggu Persetujuan Penlok dari Kemenhub
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .